Dengan kondisi ini, sektor minyak dan gas (migas) jelas diuntungkan. Kekhawatiran akan terganggunya suplai membuat harga komoditas energi ini melonjak. Emas juga ikut bersinar karena statusnya sebagai pelindung nilai.
Phintraco menambahkan, "Kenaikan pada harga migas juga berpotensi mendorong komoditas yang dapat menjadi alternatif energi seperti batu bara, nikel, dan CPO. Untuk sektor oil & gas shipping, akan terdampak positif jika tarif freight naik karena akan memperpanjang rute pelayaran."
Dampaknya terlihat jelas di papan sektoral. Sektor energi menjadi satu-satunya yang berhasil bertahan di zona hijau, dengan kenaikan 1,54 persen. Sementara itu, sektor-sektor lain terperosok, dengan sektor siklikal mengalami penurunan paling dalam, hingga 7,6 persen.
Di luar hiruk-pikuk saham energi dan emas, ada beberapa saham lain yang juga mencatatkan kenaikan tajam. BBSI (Krom Bank) naik 19 persen, MAIN (Malindo Feedmill) menguat 12 persen, dan ISSP (Steel Pipe Industry) naik 6 persen.
Tentu, di balik para pemenang, selalu ada yang kalah. Tekanan pada IHSG membuat beberapa saham terjungkal. FILM (MD Entertainment) anjlok 15 persen, KOTA (DMS Propertindo) turun 14 persen, dan GTSI (GTS International) melemah 14 persen.
Hari ini, pasar sekali lagi diingatkan betapa rapuhnya ia terhadap gejolak politik di belahan dunia lain. Investor pun harus siap dengan segala kemungkinan.
Artikel Terkait
PJHB Ganti Galangan Kapal Ketiga, Beralih ke TSU karena Harga Lebih Kompetitif
Sido Muncul Catat Laba Bersih Rp1,23 Triliun di 2025 Didorong Ekspor yang Melonjak 31%
KISI Challenge Berakhir, BYD Denza D9 dan Hermès Birkin 25 Diberikan ke Pemenang
IHSG Terkoreksi 1,6%, Mayoritas Sektor Tertekan di Awal Pekan