Permainan Truth or Dare Berujung Pelecehan, Mahasiswi UNS Jadi Korban

- Selasa, 09 Desember 2025 | 12:20 WIB
Permainan Truth or Dare Berujung Pelecehan, Mahasiswi UNS Jadi Korban

Main Truth or Dare, Mahasiswi UNS Alami Pelecehan Seksual

Dunia pendidikan kembali tercoreng. Kali ini, sebuah insiden pelecehan seksual terjadi di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), berawal dari sebuah permainan yang seharusnya menyenangkan: Truth or Dare.

Kronologi kelam ini diungkap oleh akun Instagram @kentingansantuy. Dalam unggahannya, mereka menyebut UNS "lagi-lagi dihebohkan dengan kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh makhluk tololnya."

Semuanya bermula di sebuah kos. Seorang mahasiswi kita sebut saja korban sedang mengerjakan tugas atau skripsi bersama dua temannya. Karena kedua rekannya enggan bekerja di luar, mereka pun memutuskan untuk tetap di dalam kamar kos tersebut.

Suasana berubah ketika malam tiba. Sekelompok mahasiswa lain, yang baru saja selesai bertanding voli, datang ke lokasi yang sama. Rupanya, mereka jenuh. Akhirnya, muncul ide untuk bermain Truth or Dare agar suasana tak terlalu membosankan. Perlu dicatat, permainan ini dilakukan dalam keadaan sadar, tanpa pengaruh alkohol atau obat-obatan terlarang sama sekali.

Namun begitu, arah permainan pelan-pelan bergeser. Dari sekadar permainan biasa, tantangan yang diberikan berubah bernuansa seksual dan mesum. Korban, sebagai satu-satunya perempuan di antara mereka, merasa tidak nyaman.

Ia berulang kali menolak dan menegaskan bahwa dirinya adalah perempuan, yang tak mungkin melakukan tantangan seperti bertelanjang dada. Tapi penolakannya diabaikan.

Menurut narasi yang beredar, karena permainan dilakukan secara tim, korban sering sengaja dijatuhkan dan dibuat kalah. Setiap kali kalah, 'dare' yang diterimanya semakin tak pantas dan mengarah pada pelecehan.

"Sampai akhirnya korban dipaksa untuk membuka baju oleh para pelaku," tulis akun tersebut.

Keadaan pun jadi mencekam. Tangan dan kaki korban dipegang erat, mulutnya ditutup, sementara para pelaku berusaha membuka paksa bajunya. Mereka bahkan melontarkan kata-kata verbal yang menyinggung, dengan dalih bercanda dan sportivitas permainan.

Dengan sisa tenaga, korban berusaha melawan. Ia berteriak meski mulutnya tertutup, menjambak, menggigit, mencakar, dan berontak mati-matian untuk melepaskan diri dari cengkeraman para pelaku.

Saat ini, kasus ini telah diambil alih oleh Satgas UNS untuk diusut tuntas. Para pelaku disebut-sebut telah menyampaikan permintaan maaf kepada publik. Tapi, tentu saja, permintaan maaf tak serta merta menghapus luka dan trauma yang diderita korban. Insiden ini menjadi pengingat pahit betapa rapuhnya rasa aman, bahkan dalam sebuah permainan yang dianggap remeh.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler