Nah, sarana ekonomi kerakyatan ini sebenarnya bukan barang baru sama sekali. Ini adalah hasil modifikasi dari kereta ekonomi AC package generasi sebelumnya. Pengerjaannya dilakukan oleh Insan Balai Yasa Manggarai, dengan fokus penyesuaian pada interior dan konfigurasi tempat duduk agar lebih nyaman untuk perjalanan jauh.
Perubahannya cukup signifikan. Setiap unit sekarang hanya memiliki 93 kursi dengan formasi 3:2, yang dirancang lebih ergonomis dan lapang. Bandingkan dengan susunan lama yang bisa memuat hingga 106 kursi tentu lebih sesak. Ada juga fitur reversible, yang memungkinkan arah kursi disesuaikan dengan laju kereta. Hal kecil seperti ini ternyata cukup berpengaruh pada kenyamanan penumpang.
Dari segi harga, tarifnya memang dirancang berada di posisi tengah: di atas kelas PSO (ber-subsidi) tapi masih di bawah Ekonomi Reguler. Skema ini jelas memberi alternatif buat masyarakat yang menginginkan fasilitas sedikit lebih baik tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Franoto kembali menekankan bahwa langkah ini adalah bentuk optimalisasi aset yang sudah ada. "Lebaran menuntut kesiapan menyeluruh. Melalui inovasi pada sarana yang ada, kapasitas bertambah dan kualitas perjalanan meningkat," jelasnya.
"Intinya, pelanggan punya lebih banyak pilihan. Baik itu jadwal maupun kelas kereta, bisa disesuaikan dengan kebutuhan mereka masing-masing," tutup Franoto.
Artikel Terkait
BEI Resmi Delisting Saham Sritex Mulai 2026, Lo Kheng Hong Tercatat Sebagai Pemegang Saham
Analis Proyeksikan Guncangan Pasar Global, Rupiah Tertekan hingga Level 17.000
Harga Emas Antam di Pegadaian Naik Tipis, Dua Produk Lainnya Stabil
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 2,86 Juta per Gram