Lebih lanjut ia menambahkan, "Investasi pada inisiatif transformasi jangka panjang terus kami lakukan. Respons positif terhadap program rebranding yang kami jalankan semakin menguatkan keyakinan bahwa upaya ini akan menciptakan nilai berkelanjutan bagi semua pemangku kepentingan."
Pernyataan itu disampaikan melalui keterangan resmi perusahaan pada Selasa, 17 Februari 2026.
Dari sisi geografis, peta penjualannya cukup beragam. Kawasan Jabodetabek dan Jawa masih jadi penyumbang utama dengan porsi 55%. Disusul Indonesia Timur yang mencakup Maluku, Papua, Nusa Tenggara, dan Bali sebesar 16%. Kalimantan dan Sumatera masing-masing menyumbang 11%, sementara Sulawesi berkontribusi 8%.
Namun begitu, pertumbuhannya tidak merata. Yang paling mencolok adalah kinerja di Indonesia Timur, yang melesat hingga 14%. Sulawesi juga tumbuh 4,7%, diikuti Jabodetabek dan Jawa sebesar 1,9%. Sayangnya, tidak semua wilayah bernasib sama. Penjualan di Sumatera justru terkoreksi 1,8%, dan yang paling dalam, Kalimantan, anjlok signifikan sebesar 10,3%.
Meski ada koreksi di beberapa daerah, perusahaan memastikan fokusnya tidak berubah. Mereka akan tetap mendorong penjualan di kawasan-kawasan utama, dengan terus memperkuat rantai pasok yang sudah tersebar di seluruh Indonesia. Strategi omnichannel juga digenjot, lewat ekspansi di marketplace dan platform on-demand, sekaligus berupaya menumbuhkan loyalitas pelanggan yang sudah ada.
Jadi, meski angin tidak selalu berhembus searah, langkah MPPA terlihat cukup mantap. Mereka berjalan di tengah tantangan, sambil mencoba meraih peluang yang ada.
Artikel Terkait
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar
PLN Tegaskan Tidak Ada Pengembalian Dana untuk Token Listrik yang Salah Beli