Penjualan Hypermart Meningkat di Kuartal III-IV 2025 Meski Daya Beli Lesu

- Rabu, 18 Februari 2026 | 09:00 WIB
Penjualan Hypermart Meningkat di Kuartal III-IV 2025 Meski Daya Beli Lesu

Di tengah suasana daya beli yang masih dianggap berat oleh banyak kalangan, ternyata ada cerita lain yang muncul. PT Matahari Putra Prima Tbk, atau MPPA, pengelola jaringan Hypermart, justru mencatat tren penjualan yang mulai membaik. Pemulihan ini sudah terlihat sejak kuartal ketiga tahun 2025 lalu.

Angkanya cukup konkret. Pada periode Juli hingga September 2025, penjualan bersih perusahaan meraih Rp1,7 triliun. Ini naik 3,3% dibanding pencapaian di kuartal sebelumnya. Tren positif itu rupanya berlanjut. Memasuki kuartal IV-2025, penjualan kembali merangkak naik 4,6% menjadi Rp1,78 triliun.

Menariknya, prospek ke depan masih cerah. Kuartal I-2026 berpotensi melihat lonjakan lagi, berkat momen Ramadan yang biasanya mendorong belanja masyarakat. Sebagai perbandingan, di kuartal yang sama tahun 2025, penjualan Hypermart bahkan sempat menyentuh angka hampir Rp1,97 triliun.

Secara keseluruhan, sepanjang tahun 2025 MPPA berhasil membukukan penjualan bersih sebesar Rp7,25 triliun. Pertumbuhannya 1,9% year-on-year. Memang tidak spektakuler, tapi setidaknya ini mencerminkan perbaikan permintaan, meski perlahan. Tantangan daya beli yang lesu memang masih ada, tapi perusahaan tampaknya bisa navigasi dengan cukup baik.

Bukan cuma penjualan yang naik. Laba kotor mereka juga ikut terdongkrak, mencapai Rp1,27 triliun dengan pertumbuhan 2,8%. Kenaikan margin ini, menurut analisis, didorong oleh kontribusi yang semakin kuat dari kategori inti: makanan dan kebutuhan sehari-hari atau food and grocery. Kategori yang memang jadi andalan.

Adrian Suherman, CEO MPPA, menyoroti kemajuan yang berkelanjutan ini.

"Kinerja kami di 2025 mencerminkan progres dalam memperkuat fundamental bisnis. Kami catat pertumbuhan penjualan yang moderat dan peningkatan margin, berkat pengelolaan biaya yang disiplin dan perbaikan strategi merchandising," ujarnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, "Investasi pada inisiatif transformasi jangka panjang terus kami lakukan. Respons positif terhadap program rebranding yang kami jalankan semakin menguatkan keyakinan bahwa upaya ini akan menciptakan nilai berkelanjutan bagi semua pemangku kepentingan."

Pernyataan itu disampaikan melalui keterangan resmi perusahaan pada Selasa, 17 Februari 2026.

Dari sisi geografis, peta penjualannya cukup beragam. Kawasan Jabodetabek dan Jawa masih jadi penyumbang utama dengan porsi 55%. Disusul Indonesia Timur yang mencakup Maluku, Papua, Nusa Tenggara, dan Bali sebesar 16%. Kalimantan dan Sumatera masing-masing menyumbang 11%, sementara Sulawesi berkontribusi 8%.

Namun begitu, pertumbuhannya tidak merata. Yang paling mencolok adalah kinerja di Indonesia Timur, yang melesat hingga 14%. Sulawesi juga tumbuh 4,7%, diikuti Jabodetabek dan Jawa sebesar 1,9%. Sayangnya, tidak semua wilayah bernasib sama. Penjualan di Sumatera justru terkoreksi 1,8%, dan yang paling dalam, Kalimantan, anjlok signifikan sebesar 10,3%.

Meski ada koreksi di beberapa daerah, perusahaan memastikan fokusnya tidak berubah. Mereka akan tetap mendorong penjualan di kawasan-kawasan utama, dengan terus memperkuat rantai pasok yang sudah tersebar di seluruh Indonesia. Strategi omnichannel juga digenjot, lewat ekspansi di marketplace dan platform on-demand, sekaligus berupaya menumbuhkan loyalitas pelanggan yang sudah ada.

Jadi, meski angin tidak selalu berhembus searah, langkah MPPA terlihat cukup mantap. Mereka berjalan di tengah tantangan, sambil mencoba meraih peluang yang ada.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar