Di tengah suasana daya beli yang masih dianggap berat oleh banyak kalangan, ternyata ada cerita lain yang muncul. PT Matahari Putra Prima Tbk, atau MPPA, pengelola jaringan Hypermart, justru mencatat tren penjualan yang mulai membaik. Pemulihan ini sudah terlihat sejak kuartal ketiga tahun 2025 lalu.
Angkanya cukup konkret. Pada periode Juli hingga September 2025, penjualan bersih perusahaan meraih Rp1,7 triliun. Ini naik 3,3% dibanding pencapaian di kuartal sebelumnya. Tren positif itu rupanya berlanjut. Memasuki kuartal IV-2025, penjualan kembali merangkak naik 4,6% menjadi Rp1,78 triliun.
Menariknya, prospek ke depan masih cerah. Kuartal I-2026 berpotensi melihat lonjakan lagi, berkat momen Ramadan yang biasanya mendorong belanja masyarakat. Sebagai perbandingan, di kuartal yang sama tahun 2025, penjualan Hypermart bahkan sempat menyentuh angka hampir Rp1,97 triliun.
Secara keseluruhan, sepanjang tahun 2025 MPPA berhasil membukukan penjualan bersih sebesar Rp7,25 triliun. Pertumbuhannya 1,9% year-on-year. Memang tidak spektakuler, tapi setidaknya ini mencerminkan perbaikan permintaan, meski perlahan. Tantangan daya beli yang lesu memang masih ada, tapi perusahaan tampaknya bisa navigasi dengan cukup baik.
Bukan cuma penjualan yang naik. Laba kotor mereka juga ikut terdongkrak, mencapai Rp1,27 triliun dengan pertumbuhan 2,8%. Kenaikan margin ini, menurut analisis, didorong oleh kontribusi yang semakin kuat dari kategori inti: makanan dan kebutuhan sehari-hari atau food and grocery. Kategori yang memang jadi andalan.
Adrian Suherman, CEO MPPA, menyoroti kemajuan yang berkelanjutan ini.
"Kinerja kami di 2025 mencerminkan progres dalam memperkuat fundamental bisnis. Kami catat pertumbuhan penjualan yang moderat dan peningkatan margin, berkat pengelolaan biaya yang disiplin dan perbaikan strategi merchandising," ujarnya.
Artikel Terkait
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar
PLN Tegaskan Tidak Ada Pengembalian Dana untuk Token Listrik yang Salah Beli