Di tengah euforia data makro, kinerja individual perusahaan ternyata beragam. Saham Mattel, misalnya, tertekan cukup dalam setelah raksasa mainan itu melaporkan hasil kuartalan yang mengecewakan. Laba bersih perseroan anjlok 25 persen, sementara pendapatannya juga gagal memenuhi proyeksi analis.
Nasib serupa dialami Kraft Heinz. Perusahaan makanan olahan itu mencatatkan penurunan penjualan organik sepanjang 2025. Menyikapi tantangan ini, manajemen memutuskan untuk membatalkan rencana pemisahan usaha (spin-off) dan justru akan mengalokasikan tambahan investasi senilai 600 juta dolar AS pada 2026 untuk memperkuat posisi pasarnya.
Di sisi lain, sektor hospitalitas memberikan sinyal yang lebih cerah. Hilton Worldwide menyambut tahun baru dengan optimisme setelah berhasil mencatatkan kenaikan laba per saham yang disesuaikan (adjusted EPS) sebesar 14 persen sepanjang 2025.
Fokus Beralih ke Data Inflasi
Meski hari ini didominasi oleh data ketenagakerjaan, pandangan pelaku pasar sudah mulai bergeser ke horizon berikutnya. Mereka kini bersiap menyambut rilis data inflasi AS (Indeks Harga Konsumen) yang dijadwalkan pada Jumat mendatang. Angka inflasi ini akan menjadi petunjuk krusial bagi Federal Reserve dalam menentukan langkah kebijakan moneter ke depan, dan berpotensi menjadi katalis pergerakan pasar yang baru.
Artikel Terkait
Puncak Arus Balik Lebaran, Pertamina Siagakan Ribuan SPBU dan Layanan Darurat
Multivision Plus Gelar Rights Issue Rp280 Miliar untuk Ekspansi Bioskop dan Produksi
ABM Investama Fokus Optimalisasi Dua Tambang Andalan di Aceh dan Kalteng
Kemenhub Siaga Penuh Antisipasi Puncak Arus Balik 28-29 Maret 2026