Prospek laba Indosat (ISAT) untuk tahun 2026 tampaknya cerah. Menurut analis, pertumbuhan laba bersihnya diproyeksikan naik single digit, didorong oleh katalis baru: pembentukan entitas FiberCo.
Transaksi pengalihan jaringan fiber optik itu sendiri diharapkan mendatangkan dana segar sekitar USD700 juta untuk perusahaan. Waktunya diperkirakan sekitar kuartal II atau III tahun 2026. Lumayan besar, bukan?
Riset dari Stockbit yang dirilis Selasa (10/2/2026) menyoroti hal ini. Mereka menilai ISAT punya peluang kuat mempertahankan momentumnya.
"ISAT berpeluang mempertahankan momentum untuk memenuhi panduan pertumbuhan pendapatan dan EBITDA 2026 yang ditargetkan tumbuh pada kisaran menengah hingga tinggi satu digit,"
Yang menarik, meski nantinya hanya memegang 45% saham di FiberCo, ISAT tetap akan mengendalikan operasionalnya. Artinya, kinerja keuangan FiberCo tak akan dikonsolidasi, namun perusahaan bisa membuka keran pertumbuhan baru di bisnis fiber, terutama untuk layanan fiber-to-the-home (FTTH). Di sisi lain, bisnis baru mereka, GPU-as-a-Service (GPUaaS), juga diandalkan jadi sumber pendapatan masa depan.
Proyeksi ini tentu punya dasar. Sepanjang 2025, kinerja Indosat sudah menunjukkan tren pemulihan yang solid. Pendorong utamanya? Kenaikan ARPU yang cukup kuat.
Angkanya berbicara. Laba bersih ISAT di tahun 2025 tercatat Rp5,5 triliun, naik 12% dari tahun sebelumnya yang Rp4,9 triliun. Stockbit melihat ini sebagai sinyal positif.
"Pertumbuhan laba bersih dan penguatan margin dinilai mencerminkan berlanjutnya perbaikan dinamika persaingan harga di industri telekomunikasi,"
Secara operasional, laba usaha mereka stabil di Rp10,8 triliun. Pencapaian ini ditopang kenaikan pendapatan tipis 1% dan yang patut diacungi jempol: efisiensi beban operasional yang turun signifikan 10%. Padahal, beban pokok pendapatannya justru naik 4%.
Total pendapatan tahun lalu mencapai Rp56,51 triliun. Kontributor terbesarnya, tak mengejutkan, berasal dari segmen selular sebesar Rp47,35 triliun. Disusul segmen MIDI (multimedia, komunikasi data, internet) sebesar Rp8,34 triliun, dan telekomunikasi tetap Rp817,6 miliar.
Profitabilitasnya juga terjaga. EBITDA naik tipis 0,8% ke level Rp26,59 triliun, dengan margin EBITDA yang tetap sehat di 47%. Momentum ini bahkan terasa kencang di akhir tahun. Pada kuartal IV-2025 saja, laba bersihnya melonjak 86% menjadi Rp1,9 triliun. Pemicunya jelas, ARPU yang meroket ke Rp44 ribu level tertinggi sejak 2022.
Jadi, dengan fondasi 2025 yang kuat dan strategi baru lewat FiberCo, jalan Indosat menuju 2026 memang terlihat makin menarik untuk diikuti.
Artikel Terkait
Asosiasi Pertambangan Desak Pemerintah Kaji Ulang Penurunan Kuota Batu Bara dan Nikel 2026
Wall Street Dibuka Menguat Didorong Data Ketenagakerjaan AS yang Lebih Kuat dari Perkiraan
Presiden Prabowo Minta Evaluasi Objektif Soal Pencabutan Izin Tambang Martabe
BEI Percepat Aturan Free Float Minimum 15%, Target Maret 2026 Efektif