Analisis lebih detail menunjukkan, dari kendaraan yang menuju timur, sekitar 57 persen diproyeksikan akan menuju Trans Jawa. Sisanya, sekitar 42 persen, diperkirakan akan berkumpul menuju Bandung. Pola ini mengonfirmasi bahwa beban terberat infrastruktur jalan tol akan berada pada koridor yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota di Jawa Tengah dan Timur.
Untuk arus balik, pola pergerakan diperkirakan tak jauh berbeda, dengan 50 persen kendaraan kembali dari arah timur. Namun, ada sedikit perubahan dalam komposisi. Porsi kendaraan dari Trans Jawa diprediksi turun menjadi sekitar 55 persen, diduga karena adanya fenomena penundaan waktu kepulangan atau pemilihan rute alternatif oleh sebagian pemudik.
Dasar Proyeksi dan Tingkat Akurasi
Keyakinan Jasa Marga terhadap angka proyeksi ini tidak datang begitu saja. Rivan menjelaskan bahwa perhitungan disusun dengan cermat berdasarkan pengalaman operasional dan pengelolaan lalu lintas pada puncak periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) sebelumnya. Metode ini telah terbukti memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi.
"Ini adalah satu kegiatan yang terus disiapkan oleh kami dan seluruh Direksi, yang secara lengkap mendukung terhadap persiapan Lebaran, juga sekaligus siap memberikan pelayanan terbaik untuk seluruh pengguna jalan tol Jasa Marga," tutur Rivan.
Berdasarkan evaluasi, tingkat akurasi perhitungan lalu lintas Jasa Marga pada Nataru 2025 bahkan mencapai hampir 100 persen, tepatnya sekitar 90,9 persen. Rekor ini menjadi landasan kepercayaan diri perusahaan dalam menyiapkan strategi dan sumber daya untuk menyambut gelombang mudik dua tahun mendatang, meski tetap menyisakan ruang untuk penyesuaian berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Artikel Terkait
Pemerintah Pertimbangkan Pajak Tambahan untuk Produk Impor China di E-Commerce
Puncak Arus Balik Lebaran, Pertamina Siagakan Ribuan SPBU dan Layanan Darurat
Multivision Plus Gelar Rights Issue Rp280 Miliar untuk Ekspansi Bioskop dan Produksi
ABM Investama Fokus Optimalisasi Dua Tambang Andalan di Aceh dan Kalteng