MURIANETWORK.COM - PT Surya Permata Andalan Tbk, emiten berkode saham NATO, secara resmi mengubah namanya menjadi PT Olympus Strategic Indonesia Tbk. Perubahan identitas perusahaan ini mengikuti peralihan kepemilikan dan pengendalian saham mayoritas, yang juga diiringi dengan pergantian jajaran direksi dan komisaris. Peristiwa korporasi penting ini dituntaskan melalui serangkaian proses, termasuk transaksi di pasar negosiasi dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Transaksi Akuisisi dan Pergantian Pengendali
Perubahan besar ini berawal dari transaksi akuisisi yang dilakukan oleh PT Mercury Strategic Indonesia. Perusahaan baru ini mengambil alih kepemilikan 2,15 miliar saham NATO, setara dengan 26,87 persen, dari pemegang saham pengendali sebelumnya, PT Karunia Berkah Jayasejahtera. Transaksi strategis tersebut diselesaikan melalui mekanisme pasar negosiasi pada 12 Desember 2025.
Yang menarik, harga kesepakatan dalam akuisisi ini tercatat sebesar Rp183 per saham. Angka ini terpaut cukup jauh dari harga saham NATO di pasar reguler yang saat ini berkisar di level Rp900 per lembar saham. Perbedaan harga yang signifikan ini menandai sebuah transaksi korporasi dengan pertimbangan strategis tertentu.
Direktur Utama NATO saat itu, Gede Putu Adnawa, menegaskan implikasi langsung dari transaksi tersebut. "Dampak dari fakta material tersebut adalah adanya perubahan pengendali langsung perseroan, yang sebelumnya merupakan PT Karunia Berkah Jayasejahtera menjadi PT Mercury Strategic Indonesia," jelasnya dalam keterangan resmi, Sabtu (7/2/2026).
Restrukturisasi Jajaran dan Fokus Usaha Baru
Sejalan dengan perubahan nama dan logo perusahaan, struktur kepemimpinan NATO pun mengalami transformasi menyeluruh. Melalui RUPSLB yang digelar pada 4 Februari 2026, komposisi dewan direksi dan komisaris mengalami perombakan. Mauritz Nainggolan kini ditetapkan sebagai Direktur Utama yang baru, menggantikan Gede Putu Adnawa yang beralih peran menjadi Direktur.
Di sisi komisaris, posisi Komisaris Utama kini dipegang oleh Hasan, mengambil alih dari Sayid Anwar. Sementara itu, Benedictus Calvin Ardisa ditunjuk sebagai Komisaris Independen baru, menggantikan Hotrin Tua Situmorang. Pergantian pengurus ini dinilai sebagai langkah untuk menyelaraskan visi perusahaan di bawah kendali pemilik baru.
Langkah akuisisi dan restrukturisasi ini, menurut keterangan perusahaan, dilakukan untuk mendukung rencana investasi dan pengembangan usaha ke depan. NATO dinilai memiliki prospek yang cukup menjanjikan, khususnya dalam sektor perhotelan dan akomodasi, yang menjadi fosis perhatian pengendali baru.
Kewajiban Lanjutan: Penawaran Tender Wajib
Sebagai konsekuensi dari perubahan pengendali, PT Mercury Strategic Indonesia juga memiliki kewajiban korporasi yang harus dipenuhi. Pengendali baru berkomitmen untuk melaksanakan Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer/MTO) kepada para pemegang saham publik. Komitmen ini merupakan bentuk kepatuhan terhadap ketentuan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 9 Tahun 2018, yang mengatur transaksi pengambilalihan perusahaan terbuka.
Dengan demikian, seluruh rangkaian perubahan dari ganti nama, pergantian pengendali, hingga restrukturisasi manajemen menandai babak baru bagi perusahaan yang kini bernama PT Olympus Strategic Indonesia Tbk. Pasar kini menunggu realisasi dari rencana bisnis dan komitmen MTO yang dijanjikan.
Artikel Terkait
Indospring Ekspansi Ekspor ke Pasar Timur Tengah
PT Adhi Kartiko Pratama Ambil Pinjaman Rp100 Miliar dari Bank UOB
Analis Prediksi IHSG Lanjutkan Koreksi, Waspadai Level Support 7.712
Investor Asing Borong Saham Bank Mandiri Rp1,38 Triliun Usai Laba Kuartal IV Melonjak 35%