MURIANETWORK.COM - Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) kembali menjadi magnet bagi investor asing, dengan pembelian bersih mencapai Rp1,38 triliun dalam tiga hari perdagangan awal Februari 2026. Gelombang pembelian ini mengiringi publikasi kinerja keuangan perseroan di tahun 2025 yang melampaui proyeksi pasar, mendorong harga saham rebound ke level Rp5.050.
Kinerja Kuartal Keempat Pacu Laba
Bank Mandiri menutup tahun 2025 dengan catatan mengesankan. Laba bersih perseroan tercatat Rp56,3 triliun, tumbuh tipis dari tahun sebelumnya. Yang patut disoroti adalah performa di akhir tahun: laba pada kuartal IV-2025 melonjak tajam 35 persen menjadi Rp18,6 triliun, membalikkan tren koreksi yang terjadi pada sembilan bulan pertama.
Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi kredit yang agresif sebesar 13,4 persen, mencapai Rp1.895 triliun. Fondasi pendapatan juga tampak kokoh, dengan pendapatan bunga bersih menyentuh Rp106 triliun dan pendapatan nonbunga yang tumbuh 14,5 persen menjadi Rp48,5 triliun.
Strategi Fondasi yang Disiplin
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menjelaskan bahwa pencapaian ini berakar pada pengelolaan yang terukur. Menurutnya, disiplin dalam menjaga kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas menjadi kunci.
"Pengelolaan kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas Bank Mandiri kami jaga secara disiplin dan terukur sebagai fondasi utama pertumbuhan jangka panjang," jelas Riduan. "Dengan struktur pendanaan yang sehat, kualitas pembiayaan yang terjaga, serta diversifikasi sumber pendapatan yang terus diperkuat, Bank Mandiri berada pada posisi yang solid untuk melanjutkan peran intermediasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi Tanah Air," tambahnya.
Analis Soroti Kontrol Biaya dan Provisi
Dari kacamata analis pasar modal, kinerja Bank Mandiri dinilai solid di semua lini. Investment Analyst Lead Stockbit, Edi Chandren, menyoroti beberapa faktor pendorong. Pertumbuhan pendapatan bunga dan nonbunga yang mencapai dua digit berjalan beriringan dengan kontrol beban operasional yang lebih ketat dari perkiraan, serta beban provisi yang menurun.
"BMRI merupakan salah satu top pick (pilihan utama) kami di sektor perbankan," ungkap Edi Chandren.
Lebih rinci, Edi memaparkan bahwa pertumbuhan pendapatan nonbunga ditopang oleh pemulihan tunai dan fee berulang nondigital. Sementara itu, efisiensi di kuartal akhir tahun berhasil menekan laju pertumbuhan beban operasional. Di sisi lain, beban provisi yang turun 5 persen merefleksikan perbaikan standar dalam proses penyaluran kredit.
Minat Asing Kembali Bangkit
Laporan kinerja yang positif itu langsung direspons pasar. Sentimen positif mendorong investor asing kembali mengakumulasi saham emiten BUMN tersebut, meski secara akumulatif sejak awal tahun mereka masih mencatatkan pelepasan bersih.
Berdasarkan data kepemilikan saham, sejumlah nama besar institusi keuangan global tercatat memiliki porsi saham Bank Mandiri, menunjukkan kepercayaan jangka panjang terhadap fundamental perusahaan. Kehadiran investor-investor ini seringkali menjadi pertimbangan bagi pelaku pasar lainnya dalam menilai prospek suatu saham.
Dengan fondasi yang dinilai kuat dan kinerja operasional yang terjaga, Bank Mandiri tampaknya berhasil memulihkan kepercayaan investor pasca tekanan sesaat, memposisikan diri sebagai salah satu yang terdepan dalam sektor perbankan nasional.
Artikel Terkait
Investor Asing Akumulasi Saham Bank Mandiri Rp680 Miliar Meski IHSG Tertekan
BUVA Bantah Keterkaitan dengan Kasus Pasar Modal yang Ditangani Bareskrim
PT Sanurhasta Mitra (MINA) Bantah Keterkaitan dengan Kasus Pasar Modal
OJK Pastikan IPO Kuartal I 2026 Pakai Aturan Free Float 7,5 Persen