Secara umum, perhatian investor Wall Street masih terpaku pada laporan kinerja kuartalan perusahaan-perusahaan besar. Sorotan utama adalah perkembangan dan permintaan riil terhadap teknologi AI dari raksasa-raksasa teknologi. Di sisi lain, sinyal dari ekonomi riil juga memberikan warna. Data klaim pengangguran mingguan yang dirilis ternyata lebih tinggi dari perkiraan, mengindikasikan adanya kelemahan di pasar tenaga kerja.
Laporan terpisah juga menemukan bahwa Januari lalu mencatatkan bulan dengan pengumuman pemutusan hubungan kerja (PHK) terbanyak sejak 2009. Temuan ini memperkuat sinyal dari Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP sehari sebelumnya, yang menunjukkan penambahan lapangan kerja yang lebih lambat dari ekspektasi.
"Pembaruan ini muncul setelah Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP pada Rabu menunjukkan bisnis menambah lebih sedikit membuka lapangan pekerjaan pada Januari daripada yang diperkirakan," jelas laporan tersebut. Pasar kini menanti rilis data ketenagakerjaan bulanan dari pemerintah yang dijadwalkan pada Rabu depan.
Komoditas Logam Mulia Juga Tertekan
Tidak hanya saham, tekanan jual juga melanda pasar komoditas. Harga perak mengalami penurunan tajam, mencapai 17%, dalam sesi perdagangan. Aksi jual ini didorong oleh kabar bahwa China mulai melepas sebagian kepemilikannya atas aset logam mulia tersebut, menciptakan ketidakseimbangan pasokan di pasar global.
Artikel Terkait
Ketegangan AS-Iran Picu Aksi Jual dan Pelemahan Pasar Saham Asia
Avatar: Fire and Ash Tembus USD1 Miliar, Jadi Film Ketiga Disney yang Raih Prestasi Serupa di 2025
Analis Prediksi IHSG Masih Berpotensi Koreksi ke Level 6.745
Laba Bersih ABM Investama Anjlok 51% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara