Emas Batangan Melonjak 29%, Perhiasan Tersisih di Tengah Gejolak Ekonomi

- Rabu, 04 Februari 2026 | 13:30 WIB
Emas Batangan Melonjak 29%, Perhiasan Tersisih di Tengah Gejolak Ekonomi

“Indonesia mengalami peningkatan permintaan emas total pada tahun 2025, mencapai 2 persen,” kata Shaokai.

“Angkanya mungkin sedikit lebih rendah dibanding beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, tapi tetap sejalan dengan tren peningkatan global.”

Memang, kalau dibandingkan dengan rekan-rekan se-ASEAN, pertumbuhan kita terbilang modest. Malaysia mencatat kenaikan 11 persen, Singapura 17 persen, dan Thailand bahkan melonjak 21 persen. Vietnam malah mengalami penurunan permintaan sebesar 15 persen.

2025: Tahun Bersejarah bagi Pasar Emas Global

Bicara skala global, Shaokai menyebut tahun 2025 sebagai tonggak penting. Bagaimana tidak? Harga emas mencetak 53 rekor tertinggi baru sepanjang tahun, dengan rata-rata harga melambung 44 persen ke level USD 3.431 per ons.

Tak cuma harga, permintaannya juga fenomenal. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, total permintaan emas dunia menembus angka 5.000 ton. Nilai transaksinya mencapai USD 555 miliar, naik sekitar 45 persen dari tahun sebelumnya.

Fenomena ini mengubah cara pandang terhadap logam kuning ini. Emas tak lagi sekadar alat hedging atau pelindung nilai di kala krisis.

“Peran emas sudah berkembang,” tegas Shaokai. “Dari sebelumnya alat untuk hedging di saat krisis, kini menjadi bagian dari strategi portofolio yang direncanakan secara matang.”

Dia melanjutkan, “Kami yakin banyak investor baru akan beralih ke emas. Posisi-posisi strategis baru dalam portofolio ini akan sangat membantu menghadapi ketidakpastian global yang lebih besar ke depan.”

Soal proyeksi harga untuk 2026? Shaokai enggan meramal. Namun satu hal yang dia pastikan: peningkatan permintaan terhadap emas sebagai instrumen yang relatif aman akan terus berlanjut, terutama jika dibandingkan dengan gejolak yang sering terjadi di pasar modal.


Halaman:

Komentar