Di sisi lain, komponen impor lain justru menunjukkan tren sebaliknya. Impor bahan baku penolong sedikit meredup, turun 0,83 persen ke level USD169,30 miliar. Begitu pula dengan barang konsumsi, yang menyusut 1,35 persen menjadi USD22,42 miliar.
Dari sisi negara asal, peta perdagangan kita juga berubah. China dan Amerika Serikat tercatat sebagai mitra yang nilai impornya ke Indonesia meningkat. Sebaliknya, kiriman dari Jepang, kawasan ASEAN, dan Uni Eropa justru mengalami penurunan.
Memperhatikan perkembangan bulanan, Desember 2025 sendiri mencatatkan semangat yang kuat. Total impor bulan itu mencapai USD23,83 miliar, naik 10,81 persen dari Desember 2024. Kenaikan bulanan ini, menurut Ateng, cukup didorong oleh pemulihan impor migas.
"Peningkatan nilai impor secara tahunan ini didorong naiknya impor migas dengan andil peningkatan sebesar 10,55 persen," ungkapnya.
Secara rinci, impor migas di bulan Desember senilai USD3,35 miliar (naik 1,71 persen), sementara non-migas mencapai USD20,48 miliar dengan pertumbuhan yang lebih tinggi, yaitu 12,46 persen.
Artikel Terkait
Prabowo Gencar Gentengisasi, Usir Atap Seng Berkarat dalam 3 Tahun
BEI dan OJK Gelar Pertemuan Darurat dengan MSCI, IHSG Anjlok 464 Poin
Prabowo Usung Gerakan Gentengisasi untuk Ganti Atap Seng di Seluruh Indonesia
Tabungan Motion Bonus: Langsung Dapat Rp50 Ribu dan Bebas Transfer 100 Kali