Erajaya Pacu Ekspansi, Bidik Kenaikan Laba 18% dengan Strategi Gaya Hidup dan EV

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 18:30 WIB
Erajaya Pacu Ekspansi, Bidik Kenaikan Laba 18% dengan Strategi Gaya Hidup dan EV

Erajaya Swasembada (ERAA) sedang dalam mode ekspansi yang cukup agresif. Perusahaan ritel ini tak cuma membuka gerai baru, tapi juga aktif mengakuisisi merek-merek baru, terutama di segmen yang lagi naik daun: gaya hidup aktif dan kendaraan listrik. Strategi ini, menurut banyak analis, bakal jadi motor penggerak kinerjanya di tahun 2026 dan 2027 mendatang.

Angkanya cukup mencengangkan. Sejak akhir 2022, jumlah outlet mereka melonjak 37,5 persen, atau bertambah 633 toko. Kini, total gerainya sudah mencapai 2.322. Basis ritel seluas itu tentu jadi fondasi yang kokoh untuk mendongkrak pendapatan ke depan.

Di sisi lain, diversifikasi bisnisnya juga menarik untuk disimak. ERAA resmi menjadi agen tunggal untuk mobil listrik XPENG di Indonesia. Bahkan, mereka mengoperasikan lini perakitan pertama XPENG di luar China. Langkah ini jelas menandai ambisi serius mereka di pasar EV yang sedang panas.

Sementara untuk segmen active lifestyle, portofolio mereka makin kaya dengan kehadiran merek global seperti Wilson dan Under Armour.

Manajemen punya target ambisius. Mereka ingin kontribusi pendapatan dari segmen active lifestyle dan bisnis lainnya melonjak ke kisaran 25-30 persen dalam beberapa tahun ke depan. Padahal, di sembilan bulan pertama 2025, porsinya baru 16,1 persen.

Samuel Sekuritas melihat prospek segmen ini sangat cerah. Mereka memproyeksikan penjualannya bisa tembus Rp11,3 triliun tahun ini, naik 32 persen dari tahun lalu. Lalu, terus meroket jadi Rp15,1 triliun di 2026 dan Rp19,4 triliun di 2027.

Ekspansi jaringan juga terus digenjot. Rata-rata, ERAA bakal buka 100 sampai 150 gerai baru tiap tahun. Sekitar 50-60 toko dari lini ERAL, dan 30-40 toko dari FnR. Strategi perluasan seperti inilah yang diyakini bakal menjaga pertumbuhan pendapatan tetap sustainable.

Dengan semua strategi itu, Samuel Sekuritas memperkirakan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) akan tumbuh dengan rata-rata 18 persen per tahun dari 2025 hingga 2030. Faktor pendorongnya beragam, mulai dari pergeseran penjualan ke handphone kelas menengah atas, perbaikan bauran bisnis, sampai efisiensi biaya operasional berkat optimalisasi gerai.


Halaman:

Komentar