Brusuelas khususnya menyoroti rekam jejak Warsh yang dianggap terlalu fokus pada risiko inflasi di tengah kondisi pengangguran tinggi, seperti saat krisis keuangan 2008 dulu.
Respons pasar? Cukup datar. Robin Brooks dari Brookings Institution menyebut Warsh sebagai pilihan yang bagus dan dikenal hawkish. Tapi anehnya, dolar justru tidak bergerak kuat.
Sementara itu, kritik paling keras datang dari peraih Nobel, Paul Krugman. Dalam tulisannya, dia menyebut media kerap salah menggambarkan Warsh sekadar sebagai ‘hawk’.
Dia menyebut pencalonan ini sebagai hari memalukan bagi Fed yang selama ini membanggakan profesionalisme.
Namun begitu, dukungan juga datang dari seberang Atlantik. George Osborne, mantan Menteri Keuangan Inggris, memuji keputusan Trump.
Pendapat serupa diungkapkan Alan Howard, miliarder pendiri hedge fund Brevan Howard. Dia mengenal Warsh selama dua dekade.
Jadi, bagaimana akhirnya? Semua kini tergantung pada proses konfirmasi di Senat. Satu hal yang pasti, pencalonan Warsh telah membuka perdebatan sengit tentang masa depan bank sentral paling berpengaruh di dunia itu.
Artikel Terkait
K di Label Harga vs Redenominasi: Mana yang Benar-Benar Memudahkan?
Surat Pengunduran Diri Pimpinan OJK Telah Sampai ke Istana
Rapat Tertutup Malam Sabtu: Menteri dan OJK Bahas Calon Pimpinan Baru BEI
Gelombang Modal Asing Meninggalkan Pasar RI, BI Waspadai Gejolak