Siapa Sebenarnya Kevin Warsh?
Pria kelahiran Albany, New York, 13 April 1970 ini berasal dari keluarga Yahudi. Setelah lulus dari Shaker High School, ia melanjutkan studi ke Stanford University. Di sana ia fokus pada ekonomi dan ilmu politik, meraih gelar sarjana kebijakan publik pada 1992. Jejak akademisnya berlanjut ke Harvard Law School, lulus cum laude tahun 1995. Ia juga sempat menimba ilmu di MIT Sloan dan Harvard Business School untuk urusan pasar modal.
Dunia profesionalnya dimulai di Morgan Stanley pada 1995. Kariernya melesat, hingga ia dipercaya menjadi direktur eksekutif di departemen Merger dan Akuisisi. Lalu, dari 2002 hingga 2006, dunia politik menariknya. Warsh menjabat sebagai asisten khusus presiden untuk kebijakan ekonomi. Posisi itu membuatnya kerap memberi masukan langsung ke presiden dan jajaran kabinet soal isu-isu rumit seperti pasar modal, perbankan, dan asuransi.
Pengalaman puncaknya di The Fed ia raih saat menjabat gubernur dari 2006 sampai 2011. Pada masa itu, ia dikenal vokal mendorong kenaikan suku bunga, bahkan di tengah badai krisis keuangan global. Ia selalu waspada pada inflasi. Tapi belakangan, sikapnya berbalik. Ia kini justru mendukung penurunan biaya pinjaman.
Perubahan sikap itu terjadi seiring menguatnya tekanan Trump. Presiden dengan tegas menyatakan hanya akan memilih kandidat yang siap menjalankan kebijakan pemangkasan suku bunga.
“Bank Sentral AS (Fed) memiliki kebijakan yang benar-benar salah, neraca keuangannya besar, seperti kita berada di krisis tahun 2008 atau pandemi 2020, dan suku bunganya terlalu tinggi,” ujar Warsh dalam sebuah penampilan di Fox News, Minggu lalu.
“Fed perlu mengecilkan neraca keuangannya dan memangkas suku bunga. Dengan demikian, masyarakat umum dapat memperoleh biaya kredit yang jauh lebih rendah,” tegasnya.
Agendanya tak cuma soal suku bunga. Warsh rupanya punya rencana besar untuk membenahi The Fed secara keseluruhan. Dari cara lembaga itu membaca inflasi hingga struktur internalnya, ia ingin membentuk ulang bank sentral yang dianggapnya sudah kehilangan arah. Tantangan yang tidak kecil.
Artikel Terkait
DAAZ Gandeng Raksasa Global Garap Baterai Kendaraan Listrik
Harga Emas Antam Anjlok Rp260 Ribu per Gram dalam Sehari
Direktur BCA Borong Saham Rp2,1 Miliar di Tengah Kepanikan Pasar
Pefindo Beri Sinyal Hijau untuk DEWA, Tapi Ada Catatan di Baliknya