Ia memberi contoh. Di banyak negara, sovereign wealth fund atau lembaga pengelola investasi negara seringkali punya peran strategis dalam ekosistem bursa. Danantara, menurut Rosan, sangat terbuka untuk menjadi bagian dari struktur baru bursa tersebut. Tujuannya jelas: meningkatkan kedalaman pasar.
Pernyataan Rosan ini sejalan dengan arahan sebelumnya dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Airlangga menekankan pentingnya memangkas konflik kepentingan di tubuh pengelola bursa. Reformasi ini disebutnya sebagai mandat langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Rosan mengamini. Baginya, keterbukaan adalah kunci utama.
"Tadi kita juga bicara kita juga akan terbuka, nanti mungkin bursanya untuk melihat bahwa ini adalah sesuatu yang sangat positif," kata Rosan menjelaskan. "Yang memang perlu kita lakukan ke depannya agar bursa kita ini menjadi lebih baik, lebih dalam, dan memberikan transparansi yang lebih meningkat."
Nada pembicaraannya optimis. Seolah ia tak hanya melihat angka 30 persen itu sebagai statis, tapi sebagai modal untuk lompatan yang lebih besar. Visinya tentang tata kelola yang kuat dan pasar yang transparan menjadi benang merah dari seluruh pernyataannya hari itu.
Artikel Terkait
BRI Salurkan Kredit Rp4 Triliun ke Dua Anak Usaha Golden Energy Mines
GEMA Gelar Buyback Saham Senilai Rp2 Miliar hingga 2026
Anggaran Program Makan Bergizi Gratis 2026 Belum Dipangkas Pemerintah
IHSG Anjlok 1,61%, Sentimen Jual Dominasi Pasar