Dampaknya, perdagangan saham jadi kurang cair.
Di sinilah stock split diharapkan jadi solusi. Dengan harga per lembar yang lebih murah, akses bagi investor kecil pun terbuka lebar. Susan berharap langkah ini bakal memperluas basis pemegang saham dan menguatkan struktur kepemilikannya. Tak cuma itu, volume transaksi harian juga diprediksi bakal lebih aktif, yang pada ujungnya bisa menciptakan sentimen positif terhadap prospek perusahaan ke depan.
Secara teknis, pemecahan saham ini akan menggandakan jumlah saham beredar secara dramatis. Dari yang semula cuma 7,7 miliar lembar, bakal melonjak jadi 192,6 miliar lembar. Nilai nominal per saham pun ikut menyusut, dari Rp25 menjadi hanya Rp1.
Tapi investor lama tak perlu khawatir. Susan menegaskan, aksi korporasi ini sama sekali tidak mengubah nilai investasi mereka. Hak dan porsi kepemilikan akan tetap sama, hanya jumlah lembar sahamnya yang bertambah dengan harga yang disesuaikan secara proporsional. Intinya, nilai total portofolio Anda tetap setara dengan sebelum stock split.
Untuk merealisasikan rencana ini, perusahaan telah menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 11 Maret 2026 mendatang. Jika semua berjalan mulus, perdagangan dengan harga baru tersebut ditargetkan bisa dimulai pada 7 April 2026. Jadi, tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Artikel Terkait
2026: Titik Balik Laba Perbankan Nasional, Tapi Jalan Masih Berliku
IHSG Anjlok, Direktur Utama BEI Iman Rachman Mengundurkan Diri
IHSG Melaju Sendiri, Tembus 8.329 di Tengah Gejolak
Di Tengah Gejolak Pasar, Iman Rachman Lepas Jabatan Puncak BEI