Carsten Menke, analis Julius Baer Group Ltd, mengiyakan. Kondisi pasar yang terlalu panas membuat koreksi jadi hal yang wajar.
“Dengan dominasi arus dana ketimbang fundamental, pemicu kecil saja sudah cukup untuk koreksi,” ujarnya.
Sebelumnya, emas memang ditopang oleh merosotnya kepercayaan terhadap aset AS. Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik jadi bahan bakar. Momentum penguatan bahkan makin kencang setelah komentar Presiden Trump yang dianggap meremehkan pelemahan dolar. Itu dibaca sebagai sinyal hijau bagi mata uang yang lebih lemah, meski disertai ancaman tarif dan kritik terhadap The Fed.
Di sisi lain, bank sentral AS sendiri memilih bertahan. Mereka mempertahankan suku bunga, menyoroti ekonomi yang masih tangguh dan pasar tenaga kerja yang mulai stabil. Meski begitu, inflasi yang tinggi dan prospek yang belum pasti tetap diakui.
Lalu ada faktor geopolitik yang tetap panas. Iran baru-baru ini memperingatkan akan merespons dengan cara “yang belum pernah terjadi sebelumnya” menyusul ancaman dari Trump. Uni Eropa juga bersikukuh dengan keputusannya menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris. Situasi seperti ini biasanya mendukung emas, tapi kemarin pasar justru memilih ambil untung.
Indikator teknis juga mengisyaratkan jenuh. Relative strength index (RSI) emas sempat melonjak di atas 90, sementara perak di sekitar 84. Angka di atas 70 saja sudah dianggap overbought. Jadi, wajar kalau kemudian ada aksi jual dan fase koreksi ini terjadi. Pasar sepertinya butuh napas sejenak setelah rally yang begitu ekstrem.
Artikel Terkait
Iman Rachman Pamit dari Pucuk BEI di Tengah Gejolak Pasar
IHSG Melonjak 1,12% di Tengah Kejutan Mundurnya Dirut BEI
DSSA Pecah Saham, Harga Rp94 Ribu Bakal Ditekan ke Rp3.750
DSSA Pecah Saham Demi Tarik Investor Ritel, Harga Bakal Terjun ke Rp3.750