Harga emas dunia ambruk. Itulah gambaran perdagangan Kamis kemarin, saat logam mulia itu mengalami penurunan intraday terdalam dalam empat bulan terakhir. Padahal, sebelumnya sempat ada euforia dengan rekor baru di angka USD5.600 per troy ons. Apa pasal? Penguatan dolar AS jadi biang keladinya.
Dolar yang menguat itu langsung menekan harga emas spot. Dalam satu hari, pelemahannya sempat mencapai 5,7 persen level terburuk sejak akhir Oktober tahun lalu. Meski akhirnya bisa memulihkan sebagian kerugian, sentimen pasar jelas berubah. Tekanan jual bahkan lebih keras menghantam perak, yang anjlok hingga 8,4 persen di sesi yang sama.
Berdasarkan pantauan di pasar, emas spot akhirnya ditutup di level USD5.370,23, terkoreksi hampir satu persen. Rentang perdagangannya sangat lebar: dari titik terendah harian USD5.097 hingga tertinggi USD5.602. Volatilitas yang luar biasa.
Phil Streible dari Blue Line Futures punya pandangannya. Menurutnya, pelemahan di pasar saham memicu aksi likuidasi berantai.
“Sepertinya kita sudah mencapai puncak euforia,” katanya.
Pernyataan itu seperti menyiratkan bahwa rally emas tahun ini mungkin butuh jeda. Sepanjang 2026, harga emas melesat didorong ketegangan geopolitik dan kekhawatiran soal independensi The Fed. Narasi pelemahan mata uang atau ‘debasement trade’ jadi pendorong utama. Cuma dalam bulan Januari saja, kenaikannya sudah lebih dari 20 persen angka yang bikin banyak analis waspada.
Artikel Terkait
Iman Rachman Pamit dari Pucuk BEI di Tengah Gejolak Pasar
IHSG Melonjak 1,12% di Tengah Kejutan Mundurnya Dirut BEI
DSSA Pecah Saham, Harga Rp94 Ribu Bakal Ditekan ke Rp3.750
DSSA Pecah Saham Demi Tarik Investor Ritel, Harga Bakal Terjun ke Rp3.750