IHSG Anjlok, Airlangga: Momentum untuk Reformasi Pasar Modal

- Kamis, 29 Januari 2026 | 13:36 WIB
IHSG Anjlok, Airlangga: Momentum untuk Reformasi Pasar Modal

Pasar saham kita sempat heboh hari Kamis kemarin. IHSG anjlok dalam-dalam, sampai-sampai Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa menghentikan perdagangan dua kali. Guncangan ini makin terasa setelah Goldman Sachs, raksasa investasi dari AS, memangkas peringkat saham Indonesia jadi underweight. Mereka khawatir soal kelayakan investasi menurut standar MSCI, yang bisa picu arus keluar dana fantastis, lebih dari 13 miliar dolar AS.

Di tengah situasi itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto angkat bicara. Ia ditemui di kantornya di Jakarta Pusat, menanggapi gejolak yang terjadi.

“Pada prinsipnya momentum ini digunakan untuk me-reform regulasi di pasar modal. Kita lihat best practice yang ada. Jadi kita ikuti saja karena itu sudah ada jadwalnya, sudah ada pembicaraan dengan MSCI sebelumnya,” jelas Airlangga.

Ia menegaskan, momen penurunan ini justru akan dimanfaatkan untuk membenahi aturan main di pasar modal.

“Ya tentu kita harus terus melakukan reform terhadap regulasi di pasar modal. Makanya kan tadi saya bilang, kita akan meminta untuk bursa kita melakukan reform mengenai regulasi. Detailnya nanti OJK akan menjelaskan,” tambahnya.

Soal pembenahan regulasi itu, Airlangga menyebut akan dikoordinasikan langsung dengan BEI. Rupanya, ini sudah jadi pembicaraan yang berjalan, bukan langkah dadakan.

Di sisi lain, suasana di BEI pagi itu memang mencekam. Tak lama setelah pembukaan, IHSG langsung terjun bebas 8 persen, memicu trading halt pertama. Sesi I pun ditutup dengan penurunan 5,91 persen ke level 7.828,47. Indeks LQ45 juga ikut terpuruk, turun 5,21 persen.

Pergerakan saham didominasi pelemahan. Dari ratusan saham yang diperdagangkan, hanya 65 yang mampu naik. Sebaliknya, 720 saham tercatat merah, dengan transaksi mencapai puluhan triliun rupiah. Sebelum keriuhan ini, terlihat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan CEO Danareksa Rosan Roeslani telah lebih dulu meninggalkan lokasi.

Jadi, di balik kekhawatiran investor, pemerintah justru melihat celah untuk perbaikan. Airlangga tampak ingin mengambil hikmah dari tren negatif ini, mengubahnya jadi momentum evaluasi. Sekarang, semua mata tertuju pada langkah konkret OJK dan BEI berikutnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar