IHSG Terkapar Usai Tamparan MSCI, Investor Asing Kabur Rp6,17 Triliun

- Kamis, 29 Januari 2026 | 10:40 WIB
IHSG Terkapar Usai Tamparan MSCI, Investor Asing Kabur Rp6,17 Triliun

Pasar saham kita tampaknya masih akan bergoyang hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak variatif, menguji kisaran 8.200 hingga 8.400. Ini terjadi setelah sesi sebelumnya benar-benar berdarah-darah, ditekan oleh aksi jual yang cukup massif.

Tekanan itu, rupanya, datang dari berbagai penjuru. Ada sentimen global, tapi yang paling menyita perhatian adalah keputusan dari Morgan Stanley Capital International atau MSCI terkait pasar modal Indonesia. Keputusan itu seperti tamparan keras yang langsung terasa dampaknya.

Ratih Mustikoningsih, analis dari Ajaib Sekuritas, melihat tekanan belum akan reda dalam waktu dekat. Menurutnya, arus dana asing yang keluar dari pasar ekuitas domestik masih deras.

"Outflow asing dipicu oleh keputusan MSCI yang tidak menambahkan saham Indonesia dalam rebalancing Februari 2026 akibat isu transparansi free float," jelas Ratih dalam risetnya, Kamis (29/1/2026).

Fakta di lapangan menguatkan pernyataannya. Sepanjang perdagangan kemarin saja, catatan net sell oleh investor asing di seluruh pasar mencapai angka fantastis: Rp6,17 triliun. Sungguh jumlah yang tidak main-main.

Lebih mengkhawatirkan lagi, MSCI juga menyampaikan ancaman. Status Indonesia bisa saja diturunkan dari Emerging Market menjadi Frontier Market kalau masalah transparansi kepemilikan saham ini tidak kunjung membaik. Bayangan itu jelas menggerus kepercayaan investor dan IHSG pun langsung terpukul. Akibatnya, sejak awal tahun, indeks kita sudah melemah 3,77 persen per 28 Januari kinerja terburuk se-ASEAN.

Namun begitu, di tengah kepanikan, ada juga upaya untuk menenangkan pasar. Beberapa emiten mulai mengambil langkah. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), misalnya, baru saja mengumumkan rencana buyback senilai hingga Rp250 miliar. Aksi korporasi ini rencananya berlangsung dari 29 Januari sampai 28 April 2026.

Ratih menilai langkah seperti ini bisa memberi angin segar. "Rencana buyback berpotensi menjadi katalis positif jangka pendek, terutama dalam menjaga kepercayaan investor," tuturnya.


Halaman:

Komentar