Ramadan tahun ini benar-benar jadi bulan yang berat bagi pasar saham. Saham-saham konglomerat besar, yang biasanya jadi andalan, justru terpuruk. Tekanan jual yang tajam terjadi, bahkan beberapa tercatat ambles lebih dari 40 persen hanya dalam hitungan sebulan. Puncaknya terjadi jelang Lebaran yang diperkirakan jatuh pada 20-21 Maret mendatang.
Kalau dilihat datanya, yang paling terpukul adalah saham-saham di bawah bendera Grup Barito milik Prajogo Pangestu. Ambil contoh PT Petrosea Tbk (PTRO), sahamnya anjlok 42,01 persen dalam sebulan ke level Rp4.320. Nasib serupa dialami CUAN dan BRPT, yang masing-masing merosot 37,85 persen dan 36,98 persen. Tak ketinggalan, TPIA dan BREN juga ikut terimbas dengan koreksi di atas 27 persen.
Tekanan ini ternyata meluas. Kelompok Bakrie pun tak luput. BRMS dan DEWA, misalnya, sama-sama melemah lebih dari 36 persen. BUMI dan VKTR juga turun sekitar 29 persen. Meski begitu, ada sedikit cerah dari BNBR yang masih mampu mencatatkan penguatan 13,59 persen secara bulanan, meski pekan lalu ia juga terperosok dalam.
Di sisi lain, saham-saham dari grup besar lain juga terkapar. DSSA milik Sinarmas turun 34,85 persen. AMMN dari Grup Salim bahkan melemah hampir 39 persen. Saham-saham yang dikaitkan dengan Happy Hapsoro dan Haji Isam pun tak berkutik, terkoreksi dalam kisaran 28 hingga 32 persen. WIFI, yang terafiliasi dengan Hashim Djojohadikusumo, juga ikut merasakan dampaknya.
Namun begitu, di tengah pelemahan yang begitu luas, ada sedikit titik terang. Saham-saham energi di bawah konsorsium Garibaldi 'Boy' Thohir justru menunjukkan ketahanan. ADRO naik 10,36 persen, ADMR menguat 5,36 persen, dan AADI bahkan melonjak 20,69 persen. Kenaikan harga komoditas seperti batu bara dan aluminium di tengah tensi geopolitik disebut-sebut jadi penyokongnya.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi? Menurut sejumlah pelaku pasar, ini adalah gabungan dari banyak faktor. Dari dalam negeri, ada kecemasan menunggu keputusan MSCI. Lembaga rating global itu sebelumnya menyoroti soal investabilitas pasar kita, yang memicu arus keluar dana asing yang cukup deras.
Investor juga sedang mencermati satu hal teknis: struktur kepemilikan saham. Otoritas lewat KSEI baru-baru ini merilis data porsi kepemilikan 1 persen. Langkah ini bagian dari upaya transformasi untuk menjawab keraguan MSCI sekaligus mengukur likuiditas riil di pasar. Tujuannya bagus, tapi di tengah sentimen lesu, informasi seperti ini justru dibaca dengan hati-hati.
Faktor global punya andil besar. Konflik antara AS, Israel, dan Iran yang memanas bikin semua orang tegang. Harga minyak mentah sempat melonjak nyentuh bahkan tembus level USD100 per barel. Gangguan di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan 20 persen minyak dunia, bikin kekhawatiran pasokan makin menjadi.
Kenaikan harga energi ini otomatis membangkitkan hantu inflasi global. Dan ketika inflasi dikhawatirkan naik, sentimen pasar saham biasanya langsung ciut. Apalagi untuk saham-saham yang likuiditasnya terbatas, tekanan jualnya bisa lebih dalam.
Belum lagi faktor musiman. Menjelang Lebaran, ada kecenderungan alami bagi investor untuk mengamankan dana, melakukan profit taking, atau sekadar menambah posisi kas. Aksi jual pun jadi makin menjadi.
Dengan semua sentimen campur aduk ini, pergerakan saham-saham konglomerat diperkirakan masih akan sangat bergejolak dalam waktu dekat. Pasar butuh waktu untuk mencerna semua berita dan mencari titik keseimbangan baru, mungkin setelah masa libur panjang usai.
Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan Anda.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020