Rabu (28/1) lalu, Bank Indonesia secara resmi meluncurkan Laporan Perekonomian Indonesia untuk tahun 2025. Tema yang diusung kali ini cukup menggambarkan semangat zaman: tangguh, mandiri, dan sinergi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus berdaya tahan.
Dalam sambutannya, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa peluncuran laporan ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah wujud transparansi kebijakan, sekaligus upaya menjaga kredibilitas dan akuntabilitas bank sentral, sesuai amanat Undang-Undang.
“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, dan mengucapkan puji syukur serta selalu mohon bimbingan dan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Laporan Perekonomian Indonesia tahun 2025 secara resmi kami luncurkan,” ujar Perry.
Menurutnya, ada tiga pesan inti yang ingin disampaikan melalui laporan ini, yang ia singkat menjadi OKS: Optimisme, Komitmen, dan Sinergi. BI mendorong semua pihak untuk membangun optimisme terhadap masa depan perekonomian nasional.
Keyakinan itu punya dasar. Setelah melewati 2025 dengan kinerja yang dinilai baik, Perry meyakini prospek tahun-tahun berikutnya akan semakin cerah.
“Pertumbuhan kami perkirakan akan meningkat setelah tahun 2025, yang sekitar 4,7 sampai 5,55 persen,” jelasnya.
Namun begitu, optimisme saja tidak cukup. Perry juga menekankan pentingnya komitmen nyata dari semua pihak, mulai dari kementerian, lembaga, perbankan, hingga pelaku usaha. Semua harus bergerak sesuai tugas dan fungsinya untuk kepentingan rakyat.
“Bank Indonesia berkomitmen, we will do our best untuk merumuskan dan melaksanakan bauran kebijakan guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” tegasnya.
Nah, strategi terakhir dan paling krusial adalah sinergi. Perry menegaskan, untuk benar-benar mendongkrak pertumbuhan, dibutuhkan kolaborasi erat antar elemen, baik pemerintah, akademisi, maupun dunia usaha.
Artikel Terkait
BI Siap Turunkan Suku Bunga Lagi, Fokus Jaga Rupiah dan Genjot Kredit
IHSG Anjlok 8 Persen, Perdagangan Saham Terpaksa Dihentikan
IHSG Anjlok 8%, BEI Terpaksa Bekukan Perdagangan
Harga Pangan di Tiga Provinsi Terdampak Bencana Mulai Stabil