Dari sisi penyaluran kredit, BCA juga menunjukkan performa yang tangguh. Pertumbuhan total kredit mencapai 7,7 persen year-on-year, menjadi Rp 993 triliun per akhir Desember 2025. Rata-rata pertumbuhannya sepanjang tahun bahkan lebih tinggi, yakni 10,8 persen.
Kredit itu tersebar di berbagai sektor vital, seperti manufaktur, perdagangan, hingga perhotelan dan rumah tangga. Pola penyaluran ini, menurut mereka, selaras dengan komitmen mendukung perekonomian nasional.
Di lini pendanaan, dana murah dari giro dan tabungan (CASA) melonjak 13,1 persen menjadi Rp 1.045 triliun. Ini jadi modal yang kuat. Untuk kredit usaha, pertumbuhannya mencapai 9,9 persen, dengan nilai outstanding Rp 756,5 triliun. Sementara kredit konsumer tetap terjaga di angka Rp 224,1 triliun, didominasi oleh KPR sebesar Rp 142,3 triliun dan kredit kendaraan bermotor (KKB) sebesar Rp 56,6 triliun. BCA juga turut mendukung program KPR subsidi FLPP swasta sejak Oktober lalu.
Yang tak kalah penting, kualitas kredit mereka ternyata tetap terjaga. Rasio loan at risk (LAR) membaik jadi 4,8 persen dari sebelumnya 5,3 persen. Rasio NPL pun terkendali di level 1,7 persen, dengan pencadangan yang dinilai lebih dari cukup.
Komitmen terhadap pembiayaan berkelanjutan juga kian nyata. Kredit ke sektor ini tumbuh 11,7 persen menjadi Rp 255 triliun, atau sekitar seperempat dari total portofolio pembiayaan. Peningkatan signifikan terlihat pada pembiayaan proyek energi baru terbarukan yang melonjak dua kali lipat menjadi Rp 6,2 triliun, serta kredit untuk kendaraan bermotor listrik yang naik pesat 53 persen menjadi Rp 3,6 triliun.
Artikel Terkait
LPS Soroti Suku Bunga Simpanan yang Belum Turun Sesuai Sinyal Pasar
BCA Pacu Target Kredit 2026, Optimisme Tumbuh Dua Digit Mengintai
IRA-Internet Rakyat Siap Meluncur, Usai Lulus Uji Laik Operasi
MRT Jakarta Melaju ke Tangerang: Kajian Serpong-Balaraja Libatkan Swasta