Pasar saham Indonesia menutup sesi pagi dengan catatan merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir 0,60 persen ke posisi 8.921 pada Selasa siang (27/1/2026). Tekanan cukup terasa, terutama dari saham-saham besar.
Volume perdagangannya sendiri cukup sibuk, mencapai 30,8 miliar saham dengan nilai transaksi Rp15 triliun. Dari papan pencatatan, lebih banyak saham yang merosot: 461 saham melemah, sementara yang mampu menguat hanya 250. Sisanya, 247 saham, diam di tempat.
Analis Phintraco Sekuritas melihat sinyal teknikal yang beragam. Di satu sisi, pembentukan histogram negatif pada MACD masih berlanjut. Namun begitu, stochastic RSI sudah berada di area oversold dan berpotensi membentuk golden cross.
"Kami memperkirakan IHSG berpotensi bergerak dalam rentang level 8.875-8.950 pada perdagangan sesi II,"
kata mereka dalam risetnya.
Sorotan utama ada pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang kembali tertekan, anjlok 1,63 persen ke Rp7.525. Ini sekaligus melanjutkan tren buruknya sejak awal tahun, dengan akumulasi penurunan sudah lebih dari 6 persen. Rasanya, sentimen terhadap saham blue chip satu ini belum benar-benar pulih.
Artikel Terkait
Thomas Djiwandono Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Tegaskan Komitmen Jaga Independensi Bank Sentral
BEI Ungkap Target: Danantara Siap Masuk Pasar Modal Tahun Ini
Gelombang Jual Saham Konglomerasi Menyapu Bursa, MSCI Jadi Biang Kerok
IHSG Tersungkur di Tengah Geliat Pasar Asia