Kalau bicara soal mesin penggerak ekonomi, industri manufaktur kerap disebut sebagai tulang punggungnya. Nah, dalam hal ini, Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK dinilai punya peran sentral. Indonesian Business Council (IBC) sendiri menaruh perhatian besar pada potensi KEK untuk mendongkrak sektor manufaktur nasional.
Menurut Arsjad Rasjid, Ketua Dewan Pengawas IBC, masa depan pertumbuhan ekonomi kita sangat bergantung pada industri manufaktur. Ia melihat KEK sebagai katalis yang bisa mempercepat proses itu.
"Industri manufacturing itu menjadi kunci utama ke depannya. Contoh, salah satu contoh kenapa kita mendorong yang namanya special economic zone,"
Ujarnya dalam konferensi pers Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta, Senin (26/1).
"China sangat sukses karena dimulai dari Shenzhen dan sekarang di China itu banyak sekali special economic zone. Di Vietnam juga industrinya maju karena adanya special economic zone,"
tambah Arsjad. Ia menilai Indonesia perlu mencontoh kesuksesan itu dengan memperkuat peran KEK. Saat ini, kita punya beberapa KEK, misalnya di Batam yang fokus ke sektor digital dan berhasil menarik investasi dari raksasa seperti Apple.
"Inilah yang menjadi hal utama untuk mendorong bagaimana lebih banyak investasi manufacturing di Indonesia. Tapi tadi bahwa kita ingin Indonesia menuju lagi suatu economic growth yang berkualitas,"
katanya menegaskan.
Rapat Besar Ekonomi di Awal 2026
Membahas semua itu, IBC tak hanya berwacana. Mereka akan menggelar Indonesia Economic Summit (IES) 2026 pada 3-4 Februari mendatang di Jakarta. Acara besar ini rencananya bakal dihadiri sekitar 100 pembicara dan peserta dari berbagai perusahaan serta pemangku kepentingan lintas negara.
Pesertanya beragam banget. Mulai dari pejabat tinggi pemerintah, bos-bos perusahaan nasional dan internasional, investor, sampai pakar ekonomi dan perwakilan lembaga dunia. Mereka akan berdiskusi dalam berbagai sesi panel dan round-table discussion.
"Kurang lebih tahun ini ada 100 pembicara dari Indonesia dan juga dari berbagai negara yang akan hadir di IES tahun ini. Pembicara pertama dari Indonesia akan hadir menteri-menteri, menko, tokoh nasional yang langsung terlibat dalam pengambilan kebijakan,"
jelas Arsjad.
Deretan nama dari dalam negeri yang disebut hadir cukup mentereng. Ada Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono, hingga Ketua DEN Luhut Pandjaitan. Tak ketinggalan, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim S. Djodjohadikusumo, Mari Elka Pangestu, dan mantan Menlu Retno Marsudi.
Dari kancah global, bakal hadir pula sejumlah tokoh penting. Misalnya, Menteri dari Kanada Mary Ng, Utusan PM Australia Nicholas Moore, Presiden Islamic Chamber of Commerce Abdullah Saleh Kamel, dan Victor Gao dari Center for China and Globalization. Investor dan pengusaha top regional juga dijadwalkan datang.
Lembaga global macam Bank Dunia, OECD, ADB, AIIB, sampai PBB turut dalam daftar. Begitu pula dengan sejumlah sovereign wealth fund dan perusahaan swasta besar seperti Mubadala, ExxonMobil, Sinar Mas, dan Astra Indonesia. Chamber of commerce dari berbagai negara pun ikut meramaikan.
Lantas, apa yang hendak dibahas dalam forum segitu hebatnya?
Sofyan Djalil, CEO IBC, mengatakan forum ini akan mencari model pertumbuhan ekonomi yang paling cocok untuk Indonesia. Semua itu dilihat dalam konteks gejolak ekonomi dan teknologi yang bergerak begitu cepat sekarang.
"Pertumbuhan ekonomi tentu tidak cukup kita mengarahkan cuma kepada investasi negara. Bahkan kita tahu kontribusi negara dalam ekonomi Indonesia cuma 15 persen, 85 persen digerakkan oleh private sector, oleh semua warga negara, dari pengusaha besar sampai dengan para pelaku, UMKM,"
tegas Sofyan.
"Oleh sebab itu, dalam forum ini kita akan lihat misalnya konteks produktivitas. Bagaimana bisa meningkatkan produktivitas over time. Kalau kita tidak meningkatkan produktivitas, maka pertumbuhan ekonomi ini akan menjadi tantangan,"
tutupnya. Intinya, mereka ingin mencari cara agar pertumbuhan itu tak hanya cepat, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Pekan Krusial Wall Street: Raksasa Teknologi Rilis Laporan, The Fed Gelar Pertemuan Terakhir Powell
Mayapada Hospital Luncurkan Teknologi Kedokteran Nuklir untuk Tingkatkan Presisi Perawatan Kanker
Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 26 Juta, IHSG Justru Terkoreksi 6,6% dalam Sepekan
BEI Luncurkan Kampanye ‘Aku Net-Zero Hero’ di Hari Bumi, Dorong Partisipasi Publik dalam Perdagangan Karbon