Di sisi lain, kita juga perlu lihat peta global. Lembaga-lembaga multilateral punya proyeksi yang kurang lebih sama: pertumbuhan ekonomi dunia masih akan lesu. Mereka bilang, angka pertumbuhannya kemungkinan besar tetap di bawah rata-rata masa sebelum pandemi. Risiko fiskal di beberapa negara besar disebut-sebut jadi salah satu penyebabnya.
Namun begitu, pemerintah kita ternyata punya target yang cukup optimis. Untuk 2026, ditetapkanlah sasaran pertumbuhan sebesar 5,4 persen. Sebuah angka yang ambisius, tapi bukan mustahil.
Optimisme inilah yang, dalam pandangan OJK, bisa jadi magnet bagi investor. Kalau prospeknya dinilai bagus, minat investasi ke dalam negeri bisa terdongkrak. Alhasil, permintaan untuk kredit pun diperkirakan ikut naik. Jadi, di balik awan ketidakpastian global, tetap ada secercah harapan untuk ekonomi kita.
Artikel Terkait
Pupuk Indonesia Niaga dan Semen Baturaja Jalin Kerja Sama Perdagangan Clay
Wall Street Turun Lagi, Tertekan Isyarat Eskalasi Ketegangan Timur Tengah
OJK Wajibkan Dana IPO Ditampung dalam Rekening Khusus
Pemerintah Tegaskan Belum Ubah APBN Meski Harga Minyak Sempat Melonjak