Sementara berita panas lainnya datang dari Danantara. Perusahaan investasi plat merah ini punya target ambisius untuk tahun ini: menyalurkan modal hingga USD 14 miliar. Dan sumber dananya? Sebagian besar akan bersumber dari dividen perusahaan BUMN.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Patria Sjahrir, mengungkapkan hal itu dalam forum Reuters Global Markets di Davos, Jumat lalu.
Untuk mendukung rencana itu, mereka sudah menerbitkan obligasi. Rencananya, dalam satu atau dua bulan ke depan, akan ada penerbitan tahap kedua yang dijuluki 'Patriot Bonds'. Nilainya diperkirakan lebih kecil, sih, dan sangat tergantung pada respons investor nanti.
Lalu, kemana saja dana segitu besar akan dialirkan? Pandu menyebut sektor energi terbarukan dan transisi energi jadi prioritas utama dalam 1-2 tahun ke depan. Infrastruktur digital, layanan kesehatan, dan yang tak kalah penting adalah ketahanan pangan.
Soal pangan ini dia tekankan. Alasannya jelas: kebutuhan untuk memenuhi konsumsi populasi Indonesia yang diperkirakan mendekati 300 juta jiwa.
Dari sisi strategi penempatan, Danantara akan membagi modalnya. Sekitar separuh dari investasi tahun ini akan masuk ke pasar publik, terutama di dalam negeri. Mereka juga masih mengincar peluang di China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.
Di balik semua rencana besar ini, Pandu punya misi mendasar. Fokus Danantara saat ini adalah membangun kredibilitas dan tata kelola yang solid. Tujuannya sederhana: mengurangi apa yang dia sebut sebagai defisit kepercayaan terhadap institusi-institusi besar di Indonesia.
Artikel Terkait
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.893, Beban Bunga Utang Membengkak Capai Rp99,8 Triliun
IHSG Turun 0,37% ke 7.362,12 Didominasi Tekanan Jual
HAIS Bagikan Dividen Rp26,1 Miliar dari Laba 2025
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.893, Tekanan Eksternal dan Beban Utang Jadi Sorotan