Pasar komoditas global kemarin diguncang berita dari Kazakhstan. Harga minyak mentah dunia menguat pada perdagangan Rabu (21/1), didorong oleh gangguan pasokan dari dua ladang raksasa di negara Asia Tengah itu. Tak hanya itu, ekspor minyak Venezuela yang lesu juga turut memberi tekanan pada pasokan global.
Minyak Brent ditutup di angka USD 65,24 per barel, naik 0,5 persen. Sementara itu, minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), menguat tipis 0,4 persen ke level USD 60,62 per barel. Data ini dikutip dari Reuters, Kamis (22/1).
Kekacauan di Kazakhstan jadi penyebab utama. Untuk pertama kalinya, minyak dari ladang Kashagan yang besar itu dialihkan ke pasar domestik. Kenapa? Karena ada hambatan serius di terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di Laut Hitam. Gangguan ini bukan main-main.
Operator ladang Tengiz, TCO, bahkan sudah menetapkan status kondisi kahar untuk pengiriman minyak mentah ke sistem pipa CPC. Akibatnya, produksi dari kedua ladang raksasa itu berpotensi macet total. Bisa tujuh sampai sepuluh hari ke depan.
Di belahan dunia lain, Venezuela juga bermasalah. Negeri itu punya kesepakatan pasokan senilai USD 2 miliar dengan Amerika Serikat, dengan volume sekitar 7,8 juta barel. Tapi realitanya tak semulus rencana.
Data pelacakan kapal dan dokumen internal PDVSA menunjukkan perlambatan yang signifikan. Perusahaan minyak negara itu tampaknya masih kesulitan bangkit dari pemangkasan produksi masif yang terjadi sebelumnya. Mereka belum bisa membalikkan keadaan sepenuhnya.
CPO Ikut Naik
Sementara minyak mentah bergerak, minyak sawit atau CPO juga tak ketinggalan. Kontrak berjangka untuk Februari naik hampir satu persen, tepatnya 0,97 persen. Harganya sekarang berada di level MYR 4.152 per ton.
Batu Bara Newcastle Menguat
Komoditas energi lain, batu bara, juga menunjukkan tren positif. Harga batu bara berjangka Newcastle untuk kontrak Februari menguat 0,71 persen, menginjak level USD 113,00 per ton.
Nikel dan Timah Melambung
Di pasar logam, sentimen juga cukup panas. Harga nikel di London Metal Exchange melonjak 2,17 persen, mencapai USD 17.996 per ton.
Yang lebih dramatis adalah pergerakan timah. Logam ini meroket 4,06 persen dalam sehari. Saat ini, harganya sudah menyentuh level tinggi USD 51.417 per ton. Kenaikan yang cukup tajam dan menarik perhatian banyak trader.
Artikel Terkait
Taspen Serahkan Santunan Rp283 Juta ke Ahli Waris Guru SD Korban Tabrakan Kereta di Bekasi
SIG Luncurkan Semen Hijau dengan Emisi Karbon 38 Persen Lebih Rendah
ITMG Bagikan Dividen Final Rp992 per Saham untuk Tahun Buku 2025
MDS Retailing Cetak Laba Bersih Rp692 Miliar di Kuartal I-2026, Didorong Lonjakan Penjualan Luar Jawa