Indikator lain juga mendukung. PMI manufaktur kita, misalnya, masih bertengger di zona ekspansi. S&P Global mencatat angkanya 53,3 pada November tahun lalu, naik dari bulan sebelumnya. Ini artinya sektor industri masih tumbuh. Ditambah lagi, kepercayaan konsumen tetap tinggi dan penjualan ritel masih menunjukkan pertumbuhan.
Dengan melihat semua faktor tadi, Josua mengakui bahwa peluang penurunan suku bunga secara teori memang ada. Tapi kecil. Sangat kecil, selama tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
"Pemangkasan BI-Rate secara teori tetap mungkin, tetapi peluangnya kecil ketika rupiah masih rapuh," tuturnya.
"Ruang pemangkasan biasanya baru lebih realistis ketika tekanan kurs mereda, arus dana kembali membaik, dan arah inflasi semakin jelas terkendali."
Jadi, kapan kemungkinan BI mulai melonggarkan? Josua melihat pola kebijakan BI yang selama ini sangat hati-hati. Peluang penurunan suku bunga acuan baru akan terbuka paling cepat menjelang akhir semester pertama tahun ini, atau bahkan awal semester kedua. Itu pun dengan syarat: kondisi eksternal membaik dan stabilitas pasar keuangan dalam negeri benar-benar sudah pulih. Semuanya masih harus ditunggu.
Artikel Terkait
China Pamer Surplus Dagang Rekor di Davos, Tawarkan Diri sebagai Pasar Dunia
Toba Pulp Lestari Terancam Mati Suri Usai Izin Hutan Dicabut
Harga Emas Antam Melonjak Tajam, Sentuh Rp 2,7 Juta per Gram
IHSG Lesu di Level 9.094, Sektor Industri Anjlok 5,29%