Nah, yang perlu dicatat, total pendanaan yang berhasil dikumpulkan RATU tidak hanya dari IPO. Ada juga hasil dari divestasi saham. Jika dijumlahkan, totalnya mencapai Rp624,46 miliar. Rinciannya, Rp218,56 miliar dari IPO dan Rp405,90 miliar dari divestasi.
Dengan modal sebesar itu, RATU punya rencana ekspansi yang cukup ambisius. Mereka sudah menyiapkan tujuh target akuisisi untuk tiga tahun ke depan. Nilainya beragam, mulai dari 10 juta dolar AS hingga 150 juta dolar AS per akuisisi. Dua akuisisi pertama ditargetkan selesai antara kuartal IV-2025 sampai semester pertama 2026.
Untuk jangka menengah, sekitar 3-5 tahun ke depan, strateginya agak berbeda. Perusahaan ini berencana masuk ke investasi operasional dengan mengambil alih Kontrak Kerja Sama (PSC) yang skalanya lebih kecil. Tujuannya jelas: membangun kemampuan operasional dari dalam.
Lalu, bagaimana dengan rencana jangka panjangnya? Dalam kurun 6-10 tahun, target RATU lebih besar lagi. Mereka ingin berekspansi ke PSC berskala besar di dalam negeri. Tentu saja, aset yang diprioritaskan adalah yang menawarkan imbal hasil (IRR) di atas 10 persen. Struktur pendanaannya pun ingin tetap konservatif, dengan rasio utang terhadap ekuitas sekitar 80:20.
(DESI ANGRIANI)
Artikel Terkait
Stok Beras Aceh Melimpah, BULOG Pastikan Ramadan dan Lebaran Aman
68 Desa di Aceh Masih Gelap, Tim PLN Terobos Medan Terisolir Pascabencana
Libur Panjang Januari Tak Berdampak Signifikan pada Hunian Hotel
Purbaya Tegaskan Dana Transfer ke Daerah untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar Tak Dipotong