Di sisi lain, situasi keamanan global juga mencemaskan. Iran yang siaga perang dan serangan balasan Ukraina ke wilayah Rusia meningkatkan risiko secara nyata. Kehadiran kapal induk AS Abraham Lincoln di Timur Tengah ibaratnya menambah minyak ke dalam bara.
Faktor lain datang dari bank sentral. Mulai dari China, India, hingga kawasan ASEAN, mereka ramai-ramai membeli emas secara masif untuk cadangan di tengah kondisi yang disebut Ibrahim "gawat".
Pergerakan dolar AS juga patut dicermati. Pemanggilan Jerome Powell oleh otoritas hukum dan spekulasi penurunan suku bunga jelang masa pensiunnya membayangi nilai greenback. Belum lagi rupiah yang terus tertekan, membuat harga beli emas di dalam negeri otomatis lebih mahal.
Meski tren utama menguat, Ibrahim tetap memasang kewaspadaan. Ia memetakan area support jika terjadi koreksi teknis. Untuk emas dunia, support pertama ada di USD 4.553 dan kedua di USD 4.489. Sementara di pasar domestik, support diperkirakan berada di rentang Rp 2.638.000 hingga Rp 2.560.000 per gram.
Namun begitu, jika penguatan benar-benar berlanjut, target pertama logam mulia domestik adalah Rp 2.700.000 per gram sebelum akhirnya mengejar puncak di Rp 2.820.000.
Data terbaru menunjukkan, harga emas batangan Antam pada Sabtu (17/1/2025) sempat turun tipis Rp 6.000 ke level Rp 2.663.000 per gram. Sementara harga buyback-nya di posisi Rp 2.510.000 per gram pada hari Minggu.
Pelemahan kecil di akhir pekan ini, menurut Ibrahim, hanyalah momen konsolidasi belaka. Sebuah jeda sebentar sebelum harga kembali melesat, didorong sentimen eksternal yang begitu kuat di pekan mendatang.
Artikel Terkait
IHSG Menguat 1,76%, Saham KOKA dan RODA Pacu Kenaikan
IHSG Bangkit 1,76% ke 7.710, Meski Nilai Transaksi Menyusut Tajam
BUMI Pertahankan Produksi Batu Bara 73-75 Juta Ton pada 2025
MNC Tourism Pacu Pengembangan KEK Lido City Seluas 3.000 Hektare