Rosan Roeslani akhirnya angkat bicara. CEO Danantara Indonesia itu membahas rencana besar mendirikan Badan Usaha Milik Negara khusus tekstil, dengan nilai investasi yang mencengangkan: sekitar 101 triliun rupiah. Rencana ini, seperti diketahui, bernilai USD 6 miliar.
Menurut Rosan, setiap investasi Danantara di sektor apapun harus melewati kajian kelayakan yang ketat. Ada banyak parameter yang dilihat. Uniknya, meski profitabilitasnya dinilai rendah, sebuah proyek bisa tetap dipertimbangkan jika dampaknya menciptakan lapangan kerja yang luas.
"Kami terbuka untuk investasi dengan return lebih rendah dari standar, asalkan penciptaan lapangan kerjanya tinggi. Tekstil, misalnya, punya potensi serapan tenaga kerja yang sangat besar," jelas Rosan.
Pernyataan itu dia sampaikan usai konferensi pers Realisasi Investasi Triwulan IV 2025, Kamis lalu.
Di sisi lain, Rosan yang juga merangkap sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi ini tak menampik bahwa industri tekstil dalam negeri dihadapkan pada banyak aset bermasalah atau distressed asset. Namun begitu, pemerintah tetap melihat potensi yang tersisa.
"Kita lihat potensi-potensi yang ada. Apalagi kalau itu aset bermasalah. Selama kita yakin bisa melakukan turn around dan restrukturisasi secara maksimal," tambahnya.
Sayangnya, dia tak mau berkomentar lebih jauh terkait rencana pemerintah menyelamatkan restrukturisasi PT Sri Rejeki Isman (Sritex) yang sudah berstatus pailit. Fokusnya lebih pada prinsip penyehatan yang selama ini dijalankan Danantara.
“Penyehatan yang kami lakukan pada BUMN tidak cuma dari sisi modal. Tapi juga secara menyeluruh, termasuk kepastian pasar atau offtaker,” kata Rosan.
Lalu, seperti apa wujudnya nanti? Apakah berupa BUMN baru atau sekadar investasi Danantara pada perusahaan tekstil yang sudah ada? Rosan mengaku belum bisa memastikan.
"Kita masih lihat opsi-opsinya. Belum definitif," pungkasnya singkat.
Artikel Terkait
Chandra Asri Pacu Peringkat ESG, Raih Nilai A- untuk Ketahanan Air
Geliat BUMN Tekstil Pacu Saham Emiten Melambung 35%
Saham Penunggak Pajak Bisa Disita dan Dilelang Pemerintah
ICP Desember 2025 Anjlok ke USD61,10, Pasar Dihantui Super Glut