Menurutnya, pola serupa terjadi di lini teknologi. Banyak investor mulai geser modal mereka. Mereka kabur dari saham-saham megacap yang harganya sudah dianggap terlalu mahal, lalu mencari perlindungan di saham bernilai atau yang lebih defensif. Pergeseran selera ini jelas terlihat di papan pencatatan.
Indeks sektor keuangan dan teknologi di S&P 500 sama-sama tertekan. Sebaliknya, kelompok yang dianggap aman seperti barang konsumsi pokok justru naik. Ada juga sedikit cahaya dari sektor energi, yang sempat menguat seiring kekhawatiran pasokan dari Iran. Harga minyak sempat stabil lebih tinggi, meski akhirnya ikut turun juga ketika bel tanda tutup bursa mendekat.
Selain isu sektoral, pasar juga mencerna data ekonomi terbaru. Data harga produsen AS untuk November ternyata sesuai ekspektasi. Tapi, di sisi lain, penjualan ritelnya malah melampaui proyeksi. Sehari sebelumnya, laporan inflasi konsumen Desember juga tidak memberikan kejutan naik sesuai perkiraan.
Dengan data campuran seperti ini, suku bunga diperkirakan akan tetap stabil setidaknya sampai paruh pertama tahun. Pertemuan The Fed bulan ini hampir pasti tak akan membawa perubahan. Namun begitu, para trader di pasar masih berharap. Mereka, berdasarkan data LSEG, memprediksi akan ada setidaknya dua kali pemotongan suku bunga sebelum tahun 2026 berakhir.
Artikel Terkait
Laba Bersih Astra 2025 Turun Tipis 3%, Jasa Keuangan Jadi Penyelamat
Program Pondasi Perbaiki Ratusan Rumah Warga di Kalimantan Tengah
Laba Bersih ITMG Anjlok 49% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 3,085 Juta per Gram Awal Maret