Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mencabut status papan pemantauan khusus untuk dua saham. Saham PT Yelooo Integra Datanet Tbk (YELO) dan PT Esta Multi Usaha Tbk (ESTA) kini tak lagi berada di papan itu setelah tujuh hari perdagangan. Implikasinya, mulai besok perdagangan kedua saham ini tidak lagi menggunakan mekanisme full-call auction atau FCA.
Keputusan ini langsung berlaku efektif besok, 15 Januari 2026. Hal itu diumumkan langsung oleh Teuku Fahmi Ariandar, Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI, Rabu (14/1) kemarin.
"Perubahan ini mulai efektif pada tanggal 15 Januari 2026," tegas Fahmi.
Latar belakangnya, YELO dan ESTA sebelumnya ditempatkan di papan FCA karena memenuhi kriteria 10. Aturan mainnya jelas: saham yang terkena suspensi lebih dari satu hari akibat aktivitas perdagangan tertentu akan masuk ke papan pemantauan khusus. Tujuannya untuk mengawasi pergerakannya.
Performa kedua emiten ini sepanjang 2025 memang luar biasa. Saham YELO, misalnya, melesat lebih dari 700 persen dan ditutup di harga Rp150. Kenaikan fantastis itu mendongkrak kapitalisasi pasarnya hingga mencapai Rp287 miliar.
Di sisi lain, ESTA juga tak kalah panas. Sahamnya meroket lebih dari 400 persen, menguat ke level Rp404 sepanjang tahun lalu. Lonjakan mereka ini sejalan dengan sentimen positif di pasar yang mendorong IHSG mendekati ambang psikologis 9.000 poin.
Namun begitu, sementara dua saham keluar, BEI justru memasukkan satu saham baru ke dalam pengawasan khusus. PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) kini harus masuk ke papan FCA. Penyebabnya sama: kriteria 10.
Perpindahan papan ini selalu jadi perhatian pelaku pasar. Bisa jadi sinyal, bisa juga hanya prosedur rutin. Yang pasti, pergerakan saham-saham ini ke depan pasti akan lebih banyak diawasi.
Artikel Terkait
Harga Minyak Sawit Malaysia Melemah, Dihantam Permintaan Lesu dan Anjloknya Harga Minyak Dunia
Investor Asing Lepas Saham Rp2,4 Triliun, IHSG Justru Naik 2,35%
BFIN Alokasikan Seluruh Saham Treasuri untuk Program MESOP Karyawan
CIMB Niaga Bagikan Dividen Tunai Rp4,07 Triliun pada Mei 2026