Antam Bantah Video Viral Ledakan Tambang Pongkor: Itu Hoaks

- Rabu, 14 Januari 2026 | 18:50 WIB
Antam Bantah Video Viral Ledakan Tambang Pongkor: Itu Hoaks

Video yang lagi viral soal ledakan dan ratusan pekerja terjebak di tambang Antam Pongkor? Itu hoaks. Begitu penegasan tegas dari perusahaan tambang plat merah itu.

Corporate Secretary Antam, Wisnu Danandi, angkat bicara. Ia menjelaskan, video yang memicu kehebohan itu sebenarnya cuma dokumentasi rutin.

"Video yang beredar merupakan dokumentasi penanganan kondisi teknis di area tambang bawah tanah. Semua sudah diantisipasi dan ditangani sesuai prosedur keselamatan kami," jelas Wisnu, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, pekerjaan teknis itu mencakup pengaturan ventilasi dan pengamanan area kerja. Hal-hal semacam itu, katanya, adalah bagian dari operasional harian di lokasi tambang bawah tanah. Jadi, bukan keadaan darurat apalagi bencana.

Wisnu juga memastikan satu hal penting: tidak ada dampak terhadap keselamatan karyawan. Operasional di Pongkor tetap berjalan normal, semuanya dalam kendali.

"Antam memastikan bahwa tidak terdapat kejadian ledakan sebagaimana yang diinformasikan dalam konten yang beredar. Serta, tidak ada karyawan Antam yang terjebak di dalam area tambang," tegasnya.

Di sisi lain, perusahaan mengklaim selalu mengutamakan aspek keselamatan kerja dan pengendalian risiko. Prinsip good mining practice jadi pedoman utama. Mereka juga mengaku terus berkoordinasi dengan aparat dan pemangku kepentingan lain untuk jaga situasi agar tetap kondusif.

Soal video yang beredar cepat itu, Antam akhirnya mengimbau masyarakat. Pesannya sederhana: jangan mudah sebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

"Kami imbau masyarakat untuk merujuk pada informasi resmi dari perusahaan atau pihak berwenang," pungkas Wisnu.

Nah, jadi sudah jelas. Isu yang beredar itu tidak benar. Aktivitas di tambang tetap aman dan lancar.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar