Kisah Toko Kopi Bis Kota: Bertahan Sejak 1943 di Tengah Gempuran Zaman

- Rabu, 14 Januari 2026 | 14:54 WIB
Kisah Toko Kopi Bis Kota: Bertahan Sejak 1943 di Tengah Gempuran Zaman

Di kawasan ramai Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, terselip sebuah toko kopi yang usianya sungguh luar biasa. Sudah berdiri sejak 1943, usianya bahkan mengalahkan Republik Indonesia. Itulah Toko Kopi Bis Kota, sebuah legenda lokal yang bertahan dari zaman ke zaman.

Dede, pria 55 tahun yang kini mengelola toko, adalah keturunan ketiga dari sang pendiri. Bagi dia, melanjutkan bisnis keluarga ini bukan sekadar pilihan, tapi sebuah tanggung jawab. "Ya karena saya turunan, sayang lah kalau berhenti," ujarnya. "Sudah lama banget, ya dilanjutin saja," tambah Dede saat kami berbincang di tokonya yang sederhana, Selasa lalu.

Nama asli tempat ini sebenarnya Toko Sedap Djaja (Wong Hin). Tapi, sebutan Toko Kopi Bis Kota justru lebih melekat di benak pelanggan. Alasannya sederhana: merek kopi andalan mereka ya "Bis Kota" itu sendiri.

Berbicara soal kopi, toko ini punya beberapa jenis utama. Ada Robusta, WB, dan Arabika. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 70 ribu hingga Rp 200 ribu per kilogram. Asal biji kopinya pun beragam, merambah dari Lampung, Temanggung, sampai Flores. Jadi, rasanya seperti menyimpan petualangan Nusantara dalam setiap kemasannya.

Nah, soal kemasan, ini salah satu hal unik yang langsung menarik perhatian. Di era dimana segala serba plastik dan modern, Bis Kota justru setia pada bungkus kertas. Modelnya klasik, beraroma nostalgia, dan sepertinya menjadi bagian dari cerita yang mereka jual.

Meski begitu, jangan bayangkan toko ini tertinggal jauh. Dede sendiri mengakui belum membuka toko online. Tapi, menariknya, kopinya justru banyak diborong reseller yang kemudian menjualnya secara daring. Jadi, meski tokonya fisik, jangkauannya sudah meluas lewat tangan-tangan kreatif para reseller itu.

Selain mengandalkan penjualan di lokasi, Bis Kota juga rutin mengirim stok ke sejumlah kafe di Jakarta dan sekitarnya. "Kebanyakan ya di Jakarta, ada juga yang ke Bekasi atau Tangerang. Paling jauh itu," kata Dede. Permintaan dari luar daerah pun kadang datang, meski tidak setiap hari.

Lalu, bagaimana dengan omzet? Dede enggan merinci angka pastinya. Namun, ia mengakui ada penurunan yang cukup signifikan. Menurutnya, gempuran kopi kemasan saset jadi salah satu penyebab utama. "Omzet jauh turun dibanding dulu, sejak ada kopi saset," jelasnya. Situasi pandemi COVID-19 juga disebutnya memberi pengaruh yang besar.

Di sisi lain, tantangan lain justru datang ketika tren ngopi sedang naik daun. Semakin banyak orang minum kopi, semakin banyak pula kedai dan toko baru bermunculan. Persaingan pun jadi semakin ketat. Namun begitu, bagi Dede dan Bis Kota, bertahan dengan cara mereka sendiri adalah kunci. Toko tua itu tetap berdiri, menghirup aroma sejarah, sambil terus menyeduh kenangan untuk siapa saja yang mau mampir.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar