Gejolak Timur Tengah dan Serbuan Dana China Picu Rekor Baru Minyak, Timah, hingga Emas

- Rabu, 14 Januari 2026 | 10:36 WIB
Gejolak Timur Tengah dan Serbuan Dana China Picu Rekor Baru Minyak, Timah, hingga Emas

Pasar komoditas dan keuangan lagi-lagi ramai. Rabu kemarin (14/1), sentimen Donald Trump bikin harga minyak mentah melesat. Di sisi lain, timah global terus meroket, sementara IHSG dan emas Antam di dalam negeri juga tak mau kalah, sama-sama cetak rekor baru.

Ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, jadi pemicu utama. Tapi bukan cuma itu. Aksi beli dari investor China juga bikin pasar logam industri, khususnya timah, ikut panas.

Trump Batal Temui Iran, Harga Minyak Langsung Naik

Kekhawatiran soal pasokan dari Iran mendorong harga minyak mentah dunia melanjutkan penguatan sejak Selasa. Prospek bertambahnya suplai dari Venezuela sepertinya tak cukup untuk menenangkan pasar.

Mengutip Reuters, minyak Brent melonjak USD 1,24 ke level USD 65,11 per barel. Itu mendekati harga tertingginya sejak pertengahan November lalu. Sementara minyak acuan AS, WTI, juga naik sekitar 2 persen jadi USD 60,67 per barel.

Semua ini diwarnai keputusan Trump yang membatalkan pertemuan dengan petinggi Iran.

"Saya telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga pembunuhan demonstran berhenti. Bantuan sedang dalam perjalanan. MIGA (Make Iran Great Again)," tulis Trump di Truth Social.

Timah Meroket, Didorong Gempuran Dana dari China

Kalau lihat grafiknya, harganya benar-benar naik gila-gilaan. Timah di London tembus level baru di atas USD 51.000 per ton. Tren bullish-nya sudah berlangsung tiga tahun, dan kini makin menjadi karena serbuan investor China.

Di Bursa Logam London, harga sempat melonjak 4,3 persen ke USD 51.675 per ton. Angka itu memecahkan rekor sebelumnya yang tercatat di 2022.


Halaman:

Komentar