Pasar komoditas dan keuangan lagi-lagi ramai. Rabu kemarin (14/1), sentimen Donald Trump bikin harga minyak mentah melesat. Di sisi lain, timah global terus meroket, sementara IHSG dan emas Antam di dalam negeri juga tak mau kalah, sama-sama cetak rekor baru.
Ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, jadi pemicu utama. Tapi bukan cuma itu. Aksi beli dari investor China juga bikin pasar logam industri, khususnya timah, ikut panas.
Trump Batal Temui Iran, Harga Minyak Langsung Naik
Kekhawatiran soal pasokan dari Iran mendorong harga minyak mentah dunia melanjutkan penguatan sejak Selasa. Prospek bertambahnya suplai dari Venezuela sepertinya tak cukup untuk menenangkan pasar.
Mengutip Reuters, minyak Brent melonjak USD 1,24 ke level USD 65,11 per barel. Itu mendekati harga tertingginya sejak pertengahan November lalu. Sementara minyak acuan AS, WTI, juga naik sekitar 2 persen jadi USD 60,67 per barel.
Semua ini diwarnai keputusan Trump yang membatalkan pertemuan dengan petinggi Iran.
"Saya telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga pembunuhan demonstran berhenti. Bantuan sedang dalam perjalanan. MIGA (Make Iran Great Again)," tulis Trump di Truth Social.
Timah Meroket, Didorong Gempuran Dana dari China
Kalau lihat grafiknya, harganya benar-benar naik gila-gilaan. Timah di London tembus level baru di atas USD 51.000 per ton. Tren bullish-nya sudah berlangsung tiga tahun, dan kini makin menjadi karena serbuan investor China.
Di Bursa Logam London, harga sempat melonjak 4,3 persen ke USD 51.675 per ton. Angka itu memecahkan rekor sebelumnya yang tercatat di 2022.
Lonjakan permintaan dari industri elektronik pasca pandemi jadi salah satu pendorong. Logam untuk solder ini kan jadi indikator kinerja sektor komputasi. Nah, sekarang investasi di AI dan pusat data makin masif, dana pun ikut mengalir deras ke sana.
Timah itu likuiditasnya paling rendah di antara enam logam utama di LME. Tapi tahun lalu harganya melambung hampir 40 persen. Sepanjang 2026 ini, kenaikannya sudah lebih dari 25 persen. Gelombang investor China dan dana saham yang bertaruh pada reli komoditas, jelas jadi bahan bakarnya.
Emas Dalam Negeri Juga Tak Mau Ketinggalan
Di pasar domestik, emas Antam kembali catat sejarah. Harganya naik Rp 13.000 jadi Rp 2.665.000 per gram pada Rabu. Harga buyback-nya juga ikut naik ke level Rp 2.513.000 per gram.
Galeri24 pun demikian. Harga jualnya menguat ke Rp 2.676.000 per gram, dengan buyback di Rp 2.509.000. Angka-angka ini mencerminkan satu hal: minat terhadap aset safe-haven masih sangat tinggi di tengah ketidakpastian.
IHSG Sentuh 9.012, Tapi Rupiah Melemah
IHSG buka di zona hijau. Menguat 64 poin dan langsung tembus ke level 9.012. Sayangnya, euforia di pasar saham tak diiringi rupiah. Mata uang kita justru melemah terhadap dolar AS.
Ini rekor baru kedua kalinya IHSG bertengger di level 9.000-an. Sebelumnya, indeks sempat sentuh 9.002 pada Kamis pekan lalu.
Pergerakan bursa Asia hari itu variatif. Nikkei 225 Jepang naik cukup signifikan, 1,48 persen. Hang Seng Hong Kong dan SSE Composite China menguat tipis. Sementara Straits Times Singapura justru terkoreksi.
Artikel Terkait
Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif
WMUU Bakal Rights Issue Rp600 Miliar, Harga Penawaran Lebih Tinggi dari Pasar
BEI Cabut Suspensi Saham UDNG, Perdagangan Kembali dengan Pengawasan Khusus
PJAA Bagikan Dividen Rp41,67 Miliar, Pencairan Mei 2026