Laporan JPMorgan Gagalkan Optimisme Pasar Meski Inflasi AS Melunak

- Rabu, 14 Januari 2026 | 07:10 WIB
Laporan JPMorgan Gagalkan Optimisme Pasar Meski Inflasi AS Melunak

Wall Street menutup perdagangan Selasa (13/1/2025) dengan catatan merah. Sentimen pasar ternyata tak cukup kuat untuk bertahan, meski diawali dengan kabar baik soal inflasi. Pada akhirnya, laporan kuartalan JPMorgan yang mengecewakan berhasil menyeret mayoritas indeks ke zona negatif.

Dow Jones Industrial Average terpangkas 398 poin, atau sekitar 0,8 persen. Sementara itu, S&P 500 merosot 0,2 persen dan NASDAQ Composite sedikit lebih lemah, turun 0,1 persen. Padahal, di awal sesi, sempat ada optimisme yang mengembus.

Optimisme itu datang dari data inflasi AS untuk Desember. Angkanya menunjukkan tren yang stabil, bahkan sedikit melunak. Inflasi inti tahunan tercatat 2,6 persen, sedikit di bawah perkiraan. Data bulanannya juga hanya naik 0,2 persen. Artinya, tekanan harga konsumen tidak memburuk. Ini seharusnya jadi angin segar bagi investor yang menunggu sinyal dari The Fed.

Namun begitu, pelaku pasar sepertinya memilih untuk mengambil untung. Mereka melepas saham-saham yang sebelumnya menguat, menunggu kejelasan lebih lanjut. Apalagi, perhatian kini beralih ke kinerja perusahaan-perusahaan besar.

Di sinilah JPMorgan Chase memainkan peran. Bank raksasa itu melaporkan laba kuartal IV yang melampaui ekspektasi, tapi ada masalah di divisi perbankan investasinya. Yang lebih menyita perhatian, akuisisi program kartu kredit Apple dari Goldman Sachs membebani keuangan mereka. Bank itu mencatat penurunan laba bersih 7 persen, sebagian karena cadangan kredit sebesar USD 2,2 miliar terkait transaksi tersebut.

“Peluang penurunan suku bunga pada Januari masih tipis. Peluang itu lebih terlihat pada Maret,” kata Jarek Sklodowki, Kepala Perdagangan di Financial Markets Online.

Ia menambahkan, “Pemulihan Amerika masih sesuai rencana, meskipun penciptaan lapangan kerja agak mengecewakan, jadi The Fed tidak akan terburu-buru untuk menurunkan suku bunga. Tapi disinflasi berarti mereka punya kebebasan untuk bertindak.”

Laporan dari JPMorgan ini langsung memengaruhi sentimen terhadap sektor perbankan secara keseluruhan. Beberapa bank besar lain seperti Bank of America, Wells Fargo, dan Citigroup dijadwalkan merilis laporan keuangan mereka pada hari Rabu. Hasil mereka nanti akan sangat menentukan arah pasar di minggu ini.

Di sisi lain, tidak semua berita buruk. Saham-saham perusahaan semikonduktor justru meroket. Advanced Micro Devices (AMD) dan Intel (INTC) melesat masing-masing lebih dari 7 dan 6 persen. Pemicunya adalah kenaikan peringkat dari "sector weight" menjadi "overweight" oleh analis Keybank, disertai revisi target harga yang lebih tinggi.

Sementara itu, di sektor lain, Delta Air Lines mengalami nasib berbeda. Maskapai penerbangan itu mencatat laba bersih yang disesuaikan sedikit di atas perkiraan. Tapi rupanya pendapatannya meleset dari proyeksi. Ditambah panduan untuk tahun 2026 yang dianggap beragam oleh investor, saham Delta pun ikut tertekan.

Jadi, pasar saham AS awal tahun 2026 ini diwarnai oleh tarik-menarik antara data ekonomi yang cukup menggembirakan dan realitas kinerja perusahaan yang beragam. Investor tampaknya masih sangat berhati-hati, menimbang setiap angka dan pernyataan sebelum mengambil langkah berikutnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar