Wall Street Cetak Rekor Lagi, Di Tengah Sorotan ke Jerome Powell

- Selasa, 13 Januari 2026 | 06:50 WIB
Wall Street Cetak Rekor Lagi, Di Tengah Sorotan ke Jerome Powell

Wall Street kembali berpesta. Dua indeks utama AS, S&P 500 dan Dow Jones, sukses mencetak rekor penutupan tertinggi baru pada perdagangan Senin kemarin. Ini jadi catatan sejarah lagi untuk pasar modal negeri Paman Sam.

Secara rinci, Dow Jones melonjak 86.13 poin (0.17%) ke level 49,590.20. S&P 500 menguat 10.99 poin (0.16%) menjadi 6,977.27. Sementara Nasdaq Composite juga ikut naik, bertambah 62.56 poin atau 0.26% ke posisi 23,733.90. Kenaikan itu didorong kuat oleh saham-saham teknologi dan, yang menarik, oleh raksasa ritel Walmart.

Nah, saham Walmart sendiri naik cukup signifikan, sekitar 3%. Kenaikan ini memberikan dorongan besar bagi S&P 500 dan Nasdaq, apalagi sejak perusahaan itu pindah pencatatan sahamnya ke bursa tersebut bulan lalu. Sektor barang konsumsi pokok jadi yang terdepan dengan kenaikan 1.4%, diikuti sektor teknologi yang juga menunjukkan performa solid.

Padahal, awal sesi sempat ada sentimen negatif. Pasar digoyang berita soal investigasi kriminal Departemen Kehakiman AS terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell. Isunya berkisar pada komentarnya ke Kongres tentang proyek renovasi gedung. Hal ini langsung memicu kekhawatiran akan independensi bank sentral.

Powell sendiri menanggapi. Dia menyebut langkah investigasi itu cuma dalih belaka untuk mendapatkan pengaruh lebih besar atas suku bunga. Perlu diingat, suku bunga telah ditekan keras oleh Presiden Donald Trump untuk dipangkas sejak ia menjabat awal 2025.

Menanggapi hal ini, Peter Cardillo, Kepala Ekonom Pasar di Spartan Capital Securities New York, punya pandangan.

"Berita bahwa Powell sedang diselidiki pada dasarnya sudah diisyaratkan oleh Trump. Jadi saya rasa pasar sudah menerimanya dengan tenang, setidaknya untuk saat ini," ujarnya.

Selain itu, menurut Cardillo, perhatian investor sekarang teralihkan ke musim laporan pendapatan perusahaan untuk kuartal IV-2025. Mereka juga sedang menanti-nanti rilis data inflasi AS (Indeks Harga Konsumen) hari Selasa ini. Data itu akan sangat krusial untuk memperkirakan langkah The Fed selanjutnya terkait suku bunga.

Berdasarkan data LSEG, pasar saat ini memprediksi masih akan ada setidaknya dua kali lagi pemotongan suku bunga sebesar seperempat poin sebelum tahun 2026 berakhir.

Di sisi lain, aktivitas perdagangan terlihat cukup ramai. Volume perdagangan di bursa AS mencapai 17.29 miliar saham. Angka ini sedikit lebih tinggi dari rata-rata 20 hari perdagangan sebelumnya yang sebesar 16.40 miliar saham. Pasar tampaknya masih bergerak dinamis, menyerap berbagai berita yang ada.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar