Kilang Balikpapan Resmi Beroperasi, Impor Solar Ditargetkan Berhenti Tahun Ini

- Selasa, 13 Januari 2026 | 06:36 WIB
Kilang Balikpapan Resmi Beroperasi, Impor Solar Ditargetkan Berhenti Tahun Ini

Kilang Balikpapan baru saja diresmikan, dan target pemerintah langsung terasa ambisius: impor solar dihentikan tahun ini, lalu giliran avtur pada 2027. Target itu ditegaskan usai Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kalimantan Timur, Senin lalu. Proyek senilai Rp 123 triliun ini bukan main-main. Ia disebut-sebut sebagai tonggak baru untuk ketahanan energi kita.

Dengan diresmikannya RDMP, kapasitas pengolahan Kilang Balikpapan milik Pertamina melonjak drastis. Dari sebelumnya 260 ribu barel per hari, kini menjadi 360 ribu barel. Angka itu membuatnya resmi jadi kilang terbesar di Indonesia.

Dalam sambutannya, Prabowo tak menyembunyikan kebanggaannya.

"Tentunya saya menyambut bahagia dan sangat bangga atas peresmian hari ini. Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh unsur, pihak, dan jajaran personalia sehingga kita berhasil mencapai hari ini. Ini prestasi yang sangat penting bagi bangsa," ujarnya.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kemudian membeberkan detailnya. Proyek raksasa ini terintegrasi dengan infrastruktur lain, seperti Terminal Minyak Lawe-lawe dan Pipa Gas Senipah-Balikpapan. "Total investasinya sekitar 7,4 miliar US dollar. Ini adalah RDMP terbesar dalam sepanjang sejarah kita," tegas Bahlil.

Yang menarik, ini adalah proyek RDMP pertama yang selesai setelah jeda sangat panjang. Terakhir kali Pertamina merampungkan proyek serupa di Balongan, itu terjadi pada 1994. Jadi, sudah 32 tahun yang lalu.

"RDMP mempunyai makna tersendiri dalam konteks kedaulatan energi," jelas Bahlil, menekankan pentingnya momen ini.

Lalu, apa dampak langsungnya? Menurut Bahlil, pengaruhnya terhadap impor bahan bakar akan segera terasa, terutama untuk solar. "Begitu diresmikan, maka insyaallah kita tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar. Ini dalam rangka mendorong kedaulatan energi," sebutnya.

Rencananya, izin impor untuk solar CN 48 akan dihentikan mulai awal 2026. Sementara untuk jenis CN 51, impor akan berakhir pada semester kedua tahun yang sama.

Bagaimana caranya? Bahlil merinci, kebutuhan solar nasional kita sekitar 38 juta kiloliter per tahun. Kebutuhan itu sudah didukung program biodiesel B40 dan B60, ditambah lagi dengan produksi tambahan hampir 5 juta kiloliter dari kilang ini. Dengan perhitungan itu, sisa impor yang sebelumnya sekitar 5 juta kiloliter bisa ditutup. Bahkan, untuk jenis C48, akan ada surplus sekitar 1,4 juta kiloliter. Untuk C51, impor yang tersisa tinggal 600 ribu kiloliter.

"Nanti di semester kedua Pertamina saya minta untuk membangun kapasitas agar kita tidak impor lagi," lanjutnya.

Target berikutnya adalah avtur. Pemerintah yakin impor avtur bisa diakhiri pada 2027. "Jadi avtur juga 2027 insyaallah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan kita akan dorong atas perintah Bapak Presiden kita hanya mengimpor crude saja. Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis," tutur Bahlil.

Tak cuma soal henti impor, RDMP Balikpapan juga akan meningkatkan produksi berbagai jenis BBM seperti RON 92, 95, dan 98. Tujuannya jelas: memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan produksi sendiri.

Proyek yang digarap sejak 2019 ini memang komprehensif. Ia mencakup segala hal, mulai dari penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga penunjang rantai pasok energi. Peningkatan kapasitas utamanya ada pada Crude Distillation Unit (CDU).

Salah satu jantung proyek ini adalah fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex. Fasilitas inilah yang mengubah kualitas produksi bahan bakar secara signifikan. Dari standar Euro 2 dengan sulfur 2.500 ppm, naik jadi standar Euro 5 yang jauh lebih bersih dengan sulfur hanya 10 ppm.

Manfaatnya berlapis. Selain menghasilkan bensin dan solar yang lebih berkualitas, kilang ini juga akan menambah produksi LPG sekitar 336 ribu ton per tahun. Bahkan, minyak residu bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene. Sebuah lompatan besar, memang.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar