BRI baru saja merilis Surat Berharga Komersial senilai setengah triliun rupiah. Langkah ini bukan sekadar urusan pendanaan biasa, melainkan sebuah gebrakan yang menegaskan posisinya sebagai pemain kunci dalam mendalami pasar keuangan Indonesia. Di sisi lain, ini juga jadi strategi cerdas bank pelat merah itu untuk mengelola likuiditas jangka pendek secara lebih berkelanjutan.
Acara peluncurannya digelar di BRILiaN Club, Senin lalu. Hadir sejumlah nama penting: Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. Dari internal BRI, Direktur Utama Hery Gunardi hadir bersama Wakil Direktur Utama Viviana Dyah Ayu serta Direktur Treasury & International Banking Farida Thamrin. Ruangan juga dipenuhi perwakilan dari berbagai mitra strategis, seperti Mandiri Manajemen Investasi, BRI Manajemen Investasi, hingga Manulife dan BNP Paribas Asset Management.
Yang menarik, SBK ini mendapat peringkat tertinggi, IdA dari Pefindo. Ini setara dengan rating AAA untuk surat utang jangka panjang. Peringkat itu jelas bukan hadiah cuma-cuma; ia mencerminkan keandalan BRI dalam memenuhi kewajiban finansialnya tepat waktu. Dalam penerbitan perdana ini, BRI bekerja sama dengan BRI Danareksa Sekuritas sebagai arranger. Dan ini membuat BRI tercatat sebagai bank pertama di tanah air yang menerbitkan SBK, sebuah instrumen yang kini diakui secara regulasi lewat Peraturan Anggota Dewan Gubernur BI No. 13 tahun 2024.
Soal penawaran, tersedia empat pilihan tenor. Untuk satu bulan, tingkat diskontonya 4,5%. Lalu ada tenor tiga bulan di 4,60%, enam bulan 4,85%, dan dua belas bulan 4,95%. Instrumen ini dirancang bukan cuma untuk dana jangka pendek. Lebih dari itu, ia diharapkan bisa memperkuat pasar uang dengan transparansi dan kredibilitas yang lebih baik.
Dalam sambutannya, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menekankan bahwa SBK ini adalah solusi pendanaan yang cepat dan efisien.
“Ini juga menawarkan alternatif investasi dengan imbal hasil yang kompetitif bagi investor,” ujarnya.
Dengan struktur fleksibel dan tata kelola kuat, Hery meyakini SBK akan memperkuat pengelolaan likuiditas secara prudent. Ia juga bisa mendukung transmisi kebijakan dan pendalaman sistem keuangan nasional.
“Kami yakin ini langkah awal untuk memperkuat peran BRI dalam pengembangan instrumen pasar uang. Ke depan, inovasi produk akan terus kami dorong, basis investor kami perluas, tapi semua tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik,” tambah Hery.
Artikel Terkait
Kilang Balikpapan Resmi Beroperasi, Impor Solar Ditargetkan Berhenti Tahun Ini
ALII dan COCO Masuk Papan Khusus, NATO Kembali Normal
Krakatau Steel dan Tata Metal Lestari Perkuat Rantai Pasok Baja Nasional
Gaji Fantastis dan Tunjangan Mewah, Mengapa Masih Ada Korupsi di Pajak?