Senin lalu, Presiden Prabowo Subianto berdiri di Balikpapan untuk sebuah momen yang ia sebut "cukup bersejarah." Ia meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) kilang di kota itu. Menurutnya, ini adalah proyek revitalisasi kilang pertama dalam kurun waktu 32 tahun, sejak era RDMP Balongan di tahun 1994.
Dengan selesainya proyek raksasa ini, Kilang Balikpapan kini resmi menjadi yang terbesar di Indonesia. Kapasitas olahnya melonjak drastis, dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel. Tak main-main, investasi yang digelontorkan mencapai 7,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 123 triliun.
"Tadi kita sudah disebut bahwa acara seperti ini pernah dilakukan tahun 1994. Berarti 32 tahun yang lalu. Ya lumayan cukup bersejarah. Tentunya saya menyambut bahagia dan merasa sangat bangga atas yang kita hasilkan hari ini dengan peresmian ini,"
Demikian kata Prabowo dalam sambutannya.
Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan dampak nyata proyek ini untuk neraca negara. Ia menyebut RDMP Balikpapan bisa menghemat devisa hingga Rp 60 triliun. Itu berkat peningkatan pengolahan minyak mentah sebanyak 100 ribu barel setiap harinya.
"RDMP ini bisa menghasilkan bensin 5,8 juta kiloliter per tahun. Konsumsi bensin kita sekarang 38 juta kiloliter per tahun. Produksi dalam negeri kita itu 14,25 juta. Dengan penambahan 5,8 juta, maka impor kita terhadap bensin itu tinggal 19 juta kiloliter,"
jelas Bahlil dengan rinci.
Proyek yang pembangunannya dimulai sejak 2019 ini bukanlah fasilitas yang berdiri sendiri. Ia terintegrasi penuh dengan ekosistem energi di sekitarnya terhubung dengan Terminal Minyak Lawe-lawe dan juga Pipa Gas Senipah-Balikpapan yang membentang sepanjang 78 kilometer.
Peningkatan kapasitas itu ditopang oleh unit Crude Distillation Unit (CDU) yang baru. Unit inilah yang memungkinkan pengolahan 360 ribu barel minyak mentah per hari, sekaligus mengukuhkan statusnya sebagai kilang terbesar.
Namun begitu, jantung dari modernisasi ini sebenarnya ada pada Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex. Inilah elemen kunci yang mengubah segalanya. Kualitas bahan bakar yang dihasilkan naik kelas, dari standar Euro 2 langsung melompat ke Euro 5. Kandungan sulfurnya anjlok dari 2.500 ppm menjadi hanya 10 ppm.
Efeknya luas. Kilang ini tak cuma memproduksi bensin dan solar biasa. Ia juga bisa menambah pasokan LPG sekitar 336 ribu ton per tahun. Bahkan minyak residu yang sebelumnya susah diolah, kini bisa diubah menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene.
Secara teknis, proyek ini berhasil mendongkrak Indeks Kompleksitas Kilang dari 3,7 menjadi 8. Persentase nilai produknya pun naik signifikan, dari 75,3% menjadi 91,8%.
Lalu, apa imbasnya untuk kita? Targetnya jelas: menekan impor. Diperkirakan, impor produk BBM seperti bensin, solar, avtur, plus LPG bisa ditekan sampai Rp 68 triliun setiap tahun. Angka itu mencakup penghematan impor BBM sebanyak 8,24 juta kiloliter dan LPG 336 ribu ton per tahun.
Dan jangan lupa dampak ekonominya. Selama masa konstruksi, proyek ini disebut menyumbang Rp 514 triliun kepada PDB nasional. Ia juga menyerap sekitar 24.000 tenaga kerja, dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 35 persen. Sebuah lompatan besar, setelah tiga dekade menunggu.
Artikel Terkait
Jababeka Bagikan Dividen Rp42,31 Miliar, Setara Rp2 per Saham
Pendapatan Non-Tambang PT Dian Swastatika Sentosa Naik Jadi 7,6 Persen, Didorong Bisnis Digital dan Teknologi
Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
IPCM Alokasikan Rp74 Miliar untuk Pengadaan Kapal Baru pada 2026