Menteri Pertanian Amran Sulaiman punya kabar penting soal stok pangan. Ia memastikan Bulog siap menyerap gabah petani hingga 4 juta ton pada tahun 2026 nanti. Harga belinya? Tetap Rp 6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP).
Yang menarik, harga itu berlaku untuk semua kualitas gabah, atau istilahnya any quality. Amran tak menampik, kebijakan ini berisiko. Potensi kerugiannya bisa mencapai Rp 77 miliar.
Tapi, bagi dia, hitungannya jelas.
"Tapi, untungnya rakyat, petani, karena kenaikan any quality dan kenaikan harga, Rp 132 triliun, ini jagung saja dengan padi. Itu belum yang lain," tegas Amran.
"Aku tanya, mana lebih bagus? Rp 77 miliar atau Rp 132 triliun?"
Pernyataan itu disampaikannya di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Senin (12/1), usai menggelar rapat soal serapan gabah.
Di sisi lain, menurut Amran, kebijakan satu harga untuk semua kualitas ini justru bisa memompa semangat petani. Logikanya sederhana: tanpa jaminan ini, petani yang hasil panennya kurang bagus bisa langsung terpukul.
"Kalau tidak any quality, begitu petani, katakanlah rusak macam-macam, enggak banyak, dia bangkrut tidak tanam lagi. Karena dia ngurus kreditnya, KUR-nya dia bayar," ujar Amran menjelaskan.
Soal cara bayarnya nanti, tidak akan sepenuhnya digital. Amran bilang akan pakai sistem kombinasi. Tujuannya apa? "Mengantisipasi jangan sampai (serapan) ini macet," tuturnya.
Target Swasembada Bukan Hanya Beras
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono bicara soal target yang lebih luas. Pemerintah tak cuma ingin swasembada beras, tapi juga ekspor. Bahkan, ambisinya meluas ke komoditas lain.
"Karena dengan swasembada kita mensubstitusi atau mengurangi impor, artinya ada kebutuhan yang bisa kita penuhi sendiri," jelas Sudaryono.
Ia menambahkan, "Nah yang kedua, mensejahterakan petani, dan yang ketiga kan ada pertumbuhan dan ada efek ekonominya bagi rakyat."
Salah satu yang sedang dikejar? Bawang putih. Sudaryono optimis target ini bisa dicapai. Alasannya, kebutuhan lahannya relatif tak terlalu luas dibanding padi atau jagung.
"Kalau kita padi itu, padi, jagung dan lain-lain kan sekitar Lahan Baku Sawah kita 7,4 juta hektare," katanya.
"Tapi kalau untuk bawang putih ini kebutuhan untuk bisa swasembada kira-kira kita menanam 100 ribu hektare sudah selesai, sudah cukup."
Meski begitu, tantangannya tetap ada. Lokasi tanam harus di dataran tinggi, bibitnya pun harus unggul. Itu yang sekarang sedang diupayakan.
Artikel Terkait
Kemenkeu Juarai Turnamen Catur Antar-Emiten dan Kementerian di BEI
Prospek Bank Syariah Cerah di Tengah Tekanan Pasar Modal, Bisnis Emas dan Haji Jadi Motor Pertumbuhan
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Fiskal Domestik dan Ketidakpastian Moneter Global
KWT Mawar 8 di Tangerang Jaga Kualitas Sayur Hidroponik, Utamakan Mutu Dibanding Volume Panen