"Terdapat aksi profit taking saham energi turut merupakan indikasi sebagai salah satu penyebab terkoreksinya IHSG," kata Nafan.
Tapi ceritanya nggak cuma itu. Ada faktor lain dari luar negeri yang ikut menekan, terutama soal geopolitik. Kondisi global yang lagi panas di beberapa titik ternyata bikin investor was-was.
"Hemat saya berkaitan dengan dinamika geopolitik. Sebelumnya kan di kawasan Amerika Latin, terus beranjak ke kawasan Timur Tengah," jelas Nafan soal alasan di balik pelemahan ini.
Sepanjang hari, pergerakan indeks memang fluktuatif. Puncaknya sempat menyentuh 9.000, tapi dasar terendahnya nyaris di 8.715. Jelas, volatilitasnya tinggi.
Ketika bel penutupan pasar berbunyi, catatan transaksi menunjukkan nilai harian mencapai Rp 34,02 triliun. Volume perdagangannya besar, lebih dari 64 miliar saham berpindah tangan dalam 4,4 juta kali frekuensi transaksi.
Secara keseluruhan, lebih banyak saham yang tertekan. Dari total yang diperdagangkan, 439 saham melemah, sementara yang mampu naik cuma 282. Sisanya, 90 saham, flat saja. Kapitalisasi pasar BEI pun ikut menyusut, terkikis ke angka Rp 16.159 triliun.
Artikel Terkait
EMAS Kirim Perdana Dore Emas ke Antam, Sinyal Kesiapan Produksi Komersial
Angka Kecelakaan Kerja Indonesia Capai 300.000 Kasus pada 2024
Pembangunan Pabrik Baru SCNP di Bogor Capai 70 Persen
IHSG Anjlok 1,44%, Saham MSKY dan JAYA Melonjak di Atas 34%