Yang Lain: Dari Ragu hingga Optimis
Kekhawatiran serupa juga diungkapkan Harold Hamm dari Continental Resources. Ia menyebut perlu investasi besar, tapi masih butuh waktu untuk mempertimbangkannya.
Di sisi lain, ada juga yang bersuara lebih optimis. Mark Nelson, Wakil Ketua Chevron, menyatakan kesiapan perusahaannya untuk meningkatkan produksi secara signifikan. Bahkan, mereka bisa mendongkrak output sekitar 50 persen dalam satu setengah hingga dua tahun ke depan.
CEO Repsol, Josu Jon Imaz San Miguel, juga menyambut positif. Ia mengatakan perusahaannya siap menanamkan modal lebih besar di Venezuela, asalkan ada kerangka hukum dan komersial yang mendukung.
Trump sendiri tampaknya sangat yakin. Usai pertemuan, ia dengan percaya diri mengatakan kepada wartawan bahwa mereka "hampir membuat kesepakatan".
Ia berjanji memberikan "keamanan total" dan menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan itu akan berurusan langsung dengan AS, bukan dengan pemerintah Venezuela. Trump juga menyatakan AS tidak akan mempertimbangkan kerugian masa lalu yang diderita perusahaan, seperti yang dialami ConocoPhillips.
Kepada Ryan Lance, CEO ConocoPhillips yang mengaku rugi 12 miliar dolar AS di Venezuela, Trump malah berkelakar.
Pertemuan itu jelas meninggalkan kesan beragam. Di satu sisi ada desakan dan janji dari Gedung Putih, di sisi lain ada keraguan yang wajar dari dunia bisnis yang harus mempertimbangkan risiko nyata. Bagaimana kelanjutannya? Tampaknya semua masih menunggu kerangka "keamanan total" yang dijanjikan Trump itu diwujudkan dalam bentuk yang lebih konkret.
Artikel Terkait
Wall Street Dibuka Merah, Dihantui Ketegangan Iran dan Inflasi yang Membandel
RGAS Rencanakan Diversifikasi ke Bisnis Material Konstruksi pada 2026
Prabowo Ucapkan Terima Kasih kepada Putin atas Dukungan Masuknya Indonesia ke BRICS
YULE Bagikan Dividen Rp15,8 Miliar, Cair 13 Mei 2026