Bursa saham Venezuela benar-benar berulah. Rabu (7/1) kemarin, indeks utama mereka, IBC, meledak lagi. Naik tajam 14,42 persen ke level 4.458,84 poin. Kalau dilihat dari datanya, ini posisi tertinggi sejak 2017 lalu.
Hebatnya, ini bukan kenaikan satu-satunya. Sehari sebelumnya, Selasa, indeks yang berbasis di Caracas itu sudah melesat 50 persen dalam satu sesi! Rupanya, ini adalah lanjutan dari tren bullish yang sudah berlangsung beberapa hari. Sejak akhir Desember lalu, grafiknya cenderung hijau terus. Misalnya, Senin (19/12) naik 22 persen, lalu Jumat (2/1) setelah libur tahun baru, masih bertambah 7 persen.
Kalau dirata-rata, dalam sebulan terakhir kenaikannya hampir 200 persen. Gila, ya? Secara tahunan, angkanya bahkan lebih fantastis: melonjak 3.361,96 persen.
Lalu, apa penyebabnya? Semua ini terjadi di tengah gejolak politik yang dipicu oleh Presiden AS, Donald Trump. Aksi-aksinya terhadap Venezuela bisa dibilang keras. Mulai dari blokade kapal tanker, penangkapan Presiden Nicolas Maduro, sampai menyita 50 juta barel minyak mereka. Belum lama ini, Trump juga memaksa Venezuela membeli produk-produk AS dengan uang hasil penjualan minyaknya.
Nah, di tengah situasi seperti itu, pasar justru melihat peluang. Lonjakan IBC ini ditafsirkan sebagai sebuah titik balik. Mungkin saja arah kebijakan ekonomi Venezuela dan hubungannya dengan dunia internasional akan berubah. Optimisme itulah yang mendorong aksi beli besar-besaran, terutama pada saham-saham unggulan di bursa.
Artikel Terkait
Antam Gencar Eksplorasi, Siapkan Rp 246 Miliar untuk Buru Emas, Nikel, dan Bauksit
Januari, Lelang Panas Bumi yang Sempat Mandek Kembali Dibuka
Wall Street Beringsut di Tengah Data Tenaga Kerja dan Ketegangan Mahkamah Agung
Ultra Voucher Genjot Ekspansi, Targetkan Integrasi dengan Seluruh EDC BCA pada 2026