Fokus investor sekarang terbelah. Di satu sisi, mereka memperhatikan langkah-langkah berikutnya dari Gedung Putih. Di sisi lain, ada kabar kesepakatan minyak yang cukup mencengangkan. Konon, Caracas dan Washington sudah sepakat untuk ekspor minyak mentah senilai 2 miliar dolar AS. Kesepakatan ini muncul setelah serangan militer akhir pekan dan pernyataan AS soal keinginannya membeli Greenland.
Dampaknya di pasar global pun langsung terasa. Di awal perdagangan Asia Rabu itu, kontrak berjangka minyak mentah sempat melemah. Sebaliknya, saham-saham perusahaan sumber daya justru menguat. Pasar tampaknya masih mencerna, apa efek gejolak di Venezuela terhadap cadangan minyak global.
Pendapat dari dalam pasar cukup gamblang menggambarkan situasi ini.
“Harga kontrak berjangka minyak masih berada dalam tekanan setelah aksi jual pada akhir perdagangan kemarin, menyusul kabar bahwa Venezuela akan memberikan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS,” ujar Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial, seperti dikutip Reuters.
Jadi, riuhnya bursa Venezuela ini bukan tanpa sebab. Ia adalah cermin dari sebuah negara yang sedang diguncang politik, namun justru dilihat pasar dengan cara yang sama sekali berbeda.
Artikel Terkait
Antam Gencar Eksplorasi, Siapkan Rp 246 Miliar untuk Buru Emas, Nikel, dan Bauksit
Januari, Lelang Panas Bumi yang Sempat Mandek Kembali Dibuka
Wall Street Beringsut di Tengah Data Tenaga Kerja dan Ketegangan Mahkamah Agung
Ultra Voucher Genjot Ekspansi, Targetkan Integrasi dengan Seluruh EDC BCA pada 2026