“Kita sedang menyambut era di mana passive fund, baik jumlah maupun ukurannya, lebih besar daripada active fund,” jelasnya waktu itu.
Nah, karena kebanyakan dana pasif ini berinvestasi dengan mengikuti indeks, otomatis perhatian investor global akan lebih tertuju pada saham-saham berkapitalisasi besar yang jadi konstituen utama indeks dunia, seperti MSCI dan FTSE. Di sinilah saham konglomerat unggul.
Dengan latar belakang itu, dia yakin tren penguatan masih akan berlanjut, meski dinamikanya mungkin tak akan persis sama.
Sementara itu, Founder WH Project William Hartanto punya sudut pandang sedikit berbeda. Dia menyebut fenomena saham konglomerat atau 'new blue chips' ini berpotensi mencapai puncaknya di tahun 2026.
Namun begitu, William justru mengingatkan bahwa fase puncak ini bisa diwarnai pergerakan yang melambat. Kejenuhan beli berpeluang membuat kenaikan harganya tak lagi seagresif sebelumnya.
Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Saham PP Properti Melonjak 10% Usai BEI Cabut Suspensi
BEI Bekukan Perdagangan Wanteg Sekuritas Terkait Kondisi Operasional
Setelah Mediasi DPR, Mie Sedaap Gresik Janji Hentikan PHK Massal Jelang Ramadan
Analis Sucor: Saham Unggulan Tertekan Jauh di Bawah Nilai Wajar