“Kita sedang menyambut era di mana passive fund, baik jumlah maupun ukurannya, lebih besar daripada active fund,” jelasnya waktu itu.
Nah, karena kebanyakan dana pasif ini berinvestasi dengan mengikuti indeks, otomatis perhatian investor global akan lebih tertuju pada saham-saham berkapitalisasi besar yang jadi konstituen utama indeks dunia, seperti MSCI dan FTSE. Di sinilah saham konglomerat unggul.
Dengan latar belakang itu, dia yakin tren penguatan masih akan berlanjut, meski dinamikanya mungkin tak akan persis sama.
Sementara itu, Founder WH Project William Hartanto punya sudut pandang sedikit berbeda. Dia menyebut fenomena saham konglomerat atau 'new blue chips' ini berpotensi mencapai puncaknya di tahun 2026.
Namun begitu, William justru mengingatkan bahwa fase puncak ini bisa diwarnai pergerakan yang melambat. Kejenuhan beli berpeluang membuat kenaikan harganya tak lagi seagresif sebelumnya.
Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Harga CPO Anjlok 6% dalam Seminggu, Pasar Khawatir Produksi Musiman Kalahkan Permintaan
Zyrex Dapat Kredit Rp178,8 Miliar dari Bank Permata untuk Ekspansi
Harga Emas Antam Naik Tipis, Buyback Melonjak Lebih Signifikan
IHSG Melonjak 6%, Namun 10 Saham Ini Anjlok Lebih dari 10%