“Kita sedang menyambut era di mana passive fund, baik jumlah maupun ukurannya, lebih besar daripada active fund,” jelasnya waktu itu.
Nah, karena kebanyakan dana pasif ini berinvestasi dengan mengikuti indeks, otomatis perhatian investor global akan lebih tertuju pada saham-saham berkapitalisasi besar yang jadi konstituen utama indeks dunia, seperti MSCI dan FTSE. Di sinilah saham konglomerat unggul.
Dengan latar belakang itu, dia yakin tren penguatan masih akan berlanjut, meski dinamikanya mungkin tak akan persis sama.
Sementara itu, Founder WH Project William Hartanto punya sudut pandang sedikit berbeda. Dia menyebut fenomena saham konglomerat atau 'new blue chips' ini berpotensi mencapai puncaknya di tahun 2026.
Namun begitu, William justru mengingatkan bahwa fase puncak ini bisa diwarnai pergerakan yang melambat. Kejenuhan beli berpeluang membuat kenaikan harganya tak lagi seagresif sebelumnya.
Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Durian Beku Indonesia Resmi Pecah Pasar China
IHSG Melaju ke 9.000, Saham RLCO Melonjak 25%
Harga Emas Antam Melonjak Rp 7.000, Konsumen Bebas PPh 22
IHSG Melonjak 54 Poin, Rupiah Justru Tergerus di Awal Perdagangan